Shalat Subuh : Saya Memang ‘Gila’ (part 1)

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Di tengah shalat subuh, sy tiba-tiba teringat salah satu momen saat sy berada di Asrama Kidang Pananjung Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (Jl. Cisitu No. 12 Bandung). Oh iya  di perjalanan hidupku di Bandung, sy pernah tinggal di asrama ini dan mendapatkan banyak kenangan di tempat ini.  Entah mengapa sy bisa teringat momen ini. Ketika saya shalat dan sementara berdiri tiba-tiba saya mengingat bahwa saya pernah shalat subuh dengan aktif beberapa bulan saat sy menjadi penghuni di Asrama ITB itu. Sy teringat karena melihat jaket yang sy gunakan. Jaket  himpunan (Jahim) Informatika ITB  ini sering sy gunakan ketika shalat subuh di masjid dekat asrama mahasiswa itu. Yah begitulah mahasiswa ITB rata-rata mengenakan jaket himpunan mereka saat mereka ingin menutupi diri mereka dari tusukan dingin kota Bandung. Jika suatu hari Anda ingin mencoba dinginnya Bandung, cobalah di waktu subuhnya.

Perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa penghuni asrama ITB yang melakukan shalat subuh berjamaah itu patut untuk diacungi jempol. Dinginnya cuaca subuh dan air Bandung yang kadang membuat badanku gigil merinding itu tak mengalahkan niat mereka untuk pergi shalat subuh secara berjamaah  di masjid itu. Dan satu lagi mengapa mereka patut diacungi jempol, yaitu jarak antara masjid dan asrama  kurang lebih 400 m. Bukan jarak yang dekat! Bagi yang pernah tinggal di Bandung, pasti akan mengetahui bahwa orang-orang bandung  senang dengan budaya Jalan. Pernah sy  bertanya ke mereka (beberapa warga Bandung) yang sedang nongkrong mengenai suatu tempat. Mereka memberikan penjelasan bahwa tempatnya sudah DEKAT. Kata mereka, sy cukup berjalan sebentar saja maka sy akan mendapatkan tempat itu. Dan tahukah kata DEKAT disana itu ternyata tidak sama dengan kata DEKAT yang ada di persepsi sy 😦 . Dekat mereka jauh bagi orang-orang Makassar yang tidak senang dengan budaya jalan. (ya taulah kota Makassar berada pada daerah pesisir pantai sehingga panasnya membakar kulit hingga legam). Kebiasaan jalan di Bandung itu ternyata masih sering sy lakukan di kota Makassar ini. Terkadang sy sering berjalan dari daerah kampus sy saat ini (Universitas Islam Makassar) menuju daerah Universitas Hasanuddin ketika sore-sore. Maklum panas matahari sudah tidak akan membakar kulitku lagi

Sy teringat oleh sahabat-sahabat dekat sy seperti Abdul Rahmansyah(sobat sy  yang resign dari S-2  ITB dan memilih kerja di Pama Persada, sebuah perusahaan asing yang menggunakan bahasa Indonesia menjadi merek perusahaannya bergerak di Bidang Tambang, abdul adalah mahasiswa terbaik Teknik Sipil ITB tahun 2006, mendapatkan predikat cumlaude di ITB dengan IPK di atas 3, 6 kalau tidak salah, abdul satu SMA dengan sy) dan  Andi Muhammad Pramatadie (mahasiswa S-2 Teknik Geofisika ITB, S-1 juga teknik Geofisika, anak dari Pak Andi Jayalangkara Tanra, kepala Rumah sakit Dadi di Makassar. Rama sekolah di SMAN 2 Tinggi Moncong Malino). Mereka berdua adalah sahabat dekat sy yang tergolong rajin untuk shalat subuh berjamaah disana.

Saya juga teringat salah seorang kawan satu jurusan (Teknik Informatika) yang sekarang S-2 di Korea, Alfan Fariski Wicaksono namanya. Beliau, Alfan adalah seorang yang sangat rajin  shalat subuh berjamaah di masjid dekat asrama itu. Hmm apa yah nama masjid itu, 😕 sy sudah lupa nampaknya. Alfan adalah seorang mahasiswa Teknik Informatika yang jago coding, dan tertarik di salah satu bidang di Teknik Informatika. Sy lupa apa nama bidangnya yang jelas terkait beberapa hal dengan pemrosesan kata, terkait  dalam teori retrieval information (temu balik informasi, teori yang berkaitan dengan search enggine yang sering kita gunakan, om google, om yahoo, bing, asta vista, dsb). Entah mengapa sy mulai tidak akrab dengan  Alfan sejak  mulai masuk tingkat III di Institut Teknologi Bandung. Mungkin dia telah memandang sebelah mata diriku yang tidak tertarik dengan dunia programming sejak itu.

Sulit untuk menjelaskan mengenai hal ini, mengapa sy menjadi seseorang yang tidak tertarik lagi untuk mempelajari seluk beluk komputer lebih dalam lagi. Sy hanya bisa mengilustrasikan mengapa sy bisa seperti ini. Bayangkanlah jika seseorang itu seorang yatim, maka yang pertama kali dia ingin tahu adalah siapakah ayah dan ibunya. Dia tidak akan mencari tahu mengapa tegangan kurang dari 3,5 volt bisa menjadi karakter (huruf) yang tampil di layar komputer/laptop Anda. Tahukah Anda bahwa 3,5 volt itu dikonversi dalam sistem bilangan biner yang sering kita kenal dengan angka 0 dan 1 saja. Kemudian diproses  di register memori, lalu  ditampilkan di layar laptop/komputer kita. Tahukan Anda bahwa tulisan di Microsoft Word yang Anda ketik itu dari 3,5 volt yang diubah menjadi biner kemudian mengalami sejumlah proses dalam waktu singkat sehingga menjadi karakter (huruf) yang bisa Anda baca. Seorang yatim tidak akan sibuk mempelajari akan hal itu. Akan tetapi dia akan mencari tahu bahwa siapakah ayah dan ibunya. Alhamdulillah sy tidak yatim, akan tetapi ada something dengan keluarga sy sehingga sy lebih tertarik untuk mempelajari teori konflik. Dari situ awalnya hingga sy memperdalam beberapa teori-teori sy di masalah komunitas.

Seusai shalat subuh tak terasa air mata sy menetes, jatuh tak tertahankan mengingat semua yang telah sy lewati baik dunia hitam maupun putih. Perpisahan sy  dengan almamater sy, kampus ITB, perpisahan dengan beberapa kawan-kawan. Dan perpisahan secara tak langsung dengan alumni satu SMA saya.

Sy tak dapat menahannya sehingga doa yang sementara sy panjatkan sy sudahi dengan cepat dan meninggalkan masjid. Wajarlah adik-adik sy, dan kakak sy mengatakan bahwa sy  seorang yang stress. Bahkan ada adik sy yang masih SMA mengatakan gila kepada diriku jika dia marah terhadap sy. Yah sy memang gila, sy seorang yang gila karena ingin mengetahui banyak hal yang itu tidak penting untuk dicari tahu. Mengapa kita harus beragama? Mengapa harus Islam? Mengapa sy terlahir Islam? Mengapa seseorang harus berkelahi mengenai sepotong roti? Mengapa komunitas lain ingin menguasai dan mendominasi yang lain untuk kepentingan komunitasnya? Mengapa seseorang terkadang berbeda dengan apa yang disampaikan dengan kenyataaan sikap yang terjadi di lapangan? Mengapa ilmu pengetahuan tidak begitu dihargai di negeri ini? . Mengapa budaya lokal yang baik sudah mulai terkikis? Mengapa penghapusan sejarah adalah bentuk pembodohan dan pelambatan kebangkitan generasi? Mengapa musik identik dengan candu syetan di dalam sebagian mata penganut orang Islam? Mengapa lagu seperti Cinta Satu Malam (pelacur satu malam), Hamil 3 Bulan (tetapi masih girang), dan Alamat Palsu (gadis bodoh dan tolol yang dihamili laki2 bejat meninggalkan dia) begitu disukai oleh masyarakat Indonesia. Mungkin  orang luar negeri juga seandainya itu ditranslate dalam bahasa mereka :D. …  dan sejuta mengapa yang harus sy jawab di otak yang kecil yang sy miliki ini. Ingin rasanya berteriak wahai otak “berhentilah bertanya!”. Berhentilah !!! biarlah itu terjadi begitu adanya. Jangan kau pikirkan mereka!. Jangan kau pikirkan sesuatu yang tidak penting!. Pikirkanlah tubuhmu yang membutuhkan makanan!. Dan Ibumu yang berharap engkau bisa memenuhi kebutuhan dirimu secara mandiri. Tapi… tapi ..tapi…itulaha kata yang selalu disampaikan oleh syetan yang selalu menggodaku. Hmmm nampaknya sy memang gila dengan kegelisahan hatiku 😦

(*fl)

http://xandriacyrus.tumblr.com

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Daily Life, Ideologi, Islam, Kegelisahan Hatiku, Teman, Tentang Saya. Bookmark the permalink.

15 Responses to Shalat Subuh : Saya Memang ‘Gila’ (part 1)

  1. numpang lewat says:

    itu pertanyaan2 wajar rie, sy juga kadang bertanya begitu koq heheh (tp sy gak mw dibilang “gila loh”), qm cuma butuh sedikit perenungan & kamu butuh org tepat u menjawabnya, bukan dengan bertanya langsung tapi memahami tiap ucapan n perilaku mereka, sekali2 jgn lontarkan pada org yg tidak tepat cz yakin aja qm pasti dikatakan “gila” heheh

  2. dhe tertarik dengan perumpamaan yang kamu tulis Rie, tentang seorang anak yang terlahir yatim, pas banget.. teruslah mencari jawaban dari semua pertanyaan kamu, karena itu bagian dari proses dimana kamu akan makin mencintai iman yang kamu anut.. Tuhan juga menyukai hambaNya yang selalu berfikir, bukankah Dia memberikan tanda kekuasaanNya bagi hambaNya yang berfikir.. 🙂

  3. uchi says:

    kadang masalahnya begitu simple, hanya saja kita yang terlalu rumit membacanya hehehe…
    lihat apa adanya… *tsah…. 😀

    mariki’ di’ 😀

  4. Irfan Handi says:

    Hadapi dengan senyuman aja. he . . .

  5. bensdoing says:

    kalo saja setiap muslim itu tahu akan keagungan sholat isya dan shubuh (berjamaah), maka dia akan mencoba meraihnya walau dengan jalan merangkak sekalipun (maaf…klo ngga slh ini hadist…hnya sya agak lupa ini msk hadist kuat/dhaif)
    salam kenal ya 🙂

  6. setia negara says:

    Kita tingkat 3 itu berarti saya semester berapa Kak?
    Asistenku pas semester 3 alstrukdat itu, kebetulan hari itu saya asistensi pakai baju lantera studio, awalnya dia liat dmr : “loh, kamu kerja sama Pak Iping?”
    Terus akhirnya berbincang2 lagi akhirnya kita’ mi lagi Kak yang dibicarakan.

    Kesan yang kudapat bahwa dia clueless tentang keadaan ta’ waktu itu. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi, jadi ya menurutku dia tidak memandang sebelah mata tapi malah bingung dengan apa yang terjadi dengan kita dan kenapa jarang kuliah.

    Mungkin itu mi penyebab ketidak akraban ta’ kita jarang bertemu dan dia tidak tau penyebabnya. Tapi itu sih menurutku, yang sebenarnya saya ndak tau hehe.

    Oh kak kita jurusan apa sekarang? Kita hilang minat untuk belajar keinformatikaan atau sama sekali hilang minat dengan informatika? Kan sayang kak…

    • wah kurang tahu. mungkin itu salah satunya. Masalah minat untuk belajar sy masih tetap ada. Hanya saja mungkin sy merasa saya lebih tertarik untuk arah sosialnya. Maksudnya bagaimana pemamfaatan ilmu informatika itu sendiri dalam masalah sosial. SY merasa terjadi pergeseran nilai dalam masalah ini. Mungkin di ITB dan kampus2 ternama masih belum terlalu terasa. AKan tetapi secara global di Indonesia. Orang2 informatika selalu melihat masalah informatika itu identik dengan uang. Dan jarang identik dengan Hobi. Semisal kak Arif yang buat Agathe Studio, terlihat lebih jelas dia buat karena itu semacam hobi dan pasar juga. Karena pengalaman pribadi sy lebih tertarik untuk pemamfaatan masalah sosial. Terlalu panjang untuk dijelaskan. Ringkasnya bisa dibuat beberapa pertanyaan yang kira2 akan menyinggung ke situ, seperti : kita tahu bahwa masalah terbesar dari masalah negara kita adalah basis data yang amburadur dan terjadi semborono di sana sini hampir diseluruh birokrasi dari pusat lebih2 ke daerah. Tapi mengapa kita dari informatika tidak memberikan kontribusi ? Hanya sedikit, jarang yang mau buat freeware, tidask usah freeware cukup pemamfaatan secara baik aplikasi yang ada. Tidak perlu skala nasional. Adakah dari mereka yang berpikiran untuk membantu negara yang KITA CINTAI ini katanya membantu nya di skala satu kabupaten saja.. Atau skala kecamatan dah. Kalau gak bisa. Skala Institusi. Kalau gak salah, sy perhatikan di Universitas Hasanuddin,, SIstem Informasinya sudah “MULAI BAIK” tapi masih sangat banyak kekurangan. Adakah dari kalian dari Makassar sana yang peduli ? Atau misal harus menjelaskan mengapa facebook itu menjadi mahal? Apakah keuntungan terbesar dari iklan mereka ? Sy rasa itu kurang. Tetapi jauh dari bentuk2 kerja sama bagaimana mempengaruhi sosial kehidupan. Thats another story. Iyah sayang sih haha…sekarnag demi bakti ke orang tua agar sy setidaknya memiliki ijazah S-1, sy kuliah di Universitas Islam Makassar jurusan Komunikasi , FISIP.

  7. niee says:

    Waahh ternyata juga alumni Teknik Informatika.. sama deh 😀

    Ya, difikirkan boleh, tapi jangan sampai stress aja yak 🙂

  8. nanangrusmana says:

    ikut menyimak….salam 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s