Shalat Subuh : Saya Memang ‘Gila’ (part 2)

Melanjutkan Tulisan saya 2 bulan yang lalu….

Masih terngiang  dan berdengung di telinga sy salam ganesha yang digemborkan oleh Institut Teknologi Bandung, “SALAM GANESHA, ‘BAKTI KAMI UNTUKMU TUHAN, BANGSA ALMAMATER,  MERDEKA’ “. Saya pernah berpikir untuk mengganti salam ganesha ini. SALAM GANESHA, BAKTI KAMI UNTUKMU PERUSAHAAN ASING, ANAK DAN ISTRIKU, KEBUTUHANKU TERPENUHI.  atau  SALAM GANESHA, BAKTI KAMI UNTUKMU BUMN AGAR SY DAPAT GAJI TINGGI DENGAN  DAN KEBUTUHANKU TERPENUHI DAN KINERJAKU KURANG. Untuk rancangan salam ganesha pertama sy tidak mengada-ngada, dapat kita lihat dari alumni2 ITB, tidak sedikit dari  mereka kerja untuk perusahaan asing. Dan memang perusahaan asing juga mencari mereka. Karena mereka(alumni ITB) cerdas dan dapat digaji dengan murah hanya $ 500 USD  – $ 1000 USD per bulan.  (Penjual Martabak manis/terang bulan dan martabak telor di pinggir jalan juga mendapatkan penghasilan bersih  seperti itu kok dalam sebulan). Tapi entahlah tuntutan ekonomi, tuntutan strata sosial, dan kurangnya perhatian pemerintah untuk mengakomodir mereka sehingga begitulah adanya. Ada  juga yang membuat usaha sendiri, seperti dari jurusan sy sebelumnya, Teknologi Informatika. Membuat Software House, akan tetapi jarang sekali dari mereka yang membuat software yang bersifat shareware atau freeware atau tak berbayar yang sifatnya lebih sosial untuk khalayak ramai. Ini bukan sekedar perkataan belaka, lihatlah software yang beredar di internet dalam konten lokal. Berapa persen sumbangan dari orang-orang Indonesia mengenai software. Jauh lebih banyak geeks (sebutan untuk para orang maniak komputer) dari luar negeri kita  yang lebih prihatin dibandingkan orang-orang Indonesia terhadap mengenai hal ini. Terus kalian pikir kita (bangsa Indonesia) bodoh dalam hal ini. Hehe..lihatlah hacker-hacker Indonesia banyak yang jebol sana jebol sini loh.

Miris rasanya hal ini terjadi di Indonesia yang notabene mereka adalah muslim. Tahukah Anda bahwa Mengapa Islam itu begitu mudah dan menyebar di negara Indonesia ini? . Lihatlah sejarah bangsa ini. Sejarah pun mencatat dan tercatat di catatan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di belahan Indonesia bahwa ada kearifan lokal yang sangat mengena dengan Islam, yaitu sifat sosial gotong royong dari bangsa ini. Sifat gotong royong itu  tidak identik dengan uang, akan tetapi identik dengan perasaan, rasa karena ingin mengubah sesuatu untuk hal yang lebih baik. Sepertinya catatsthrope telah terjadi di komunitas Islam, bukan orang non Islam lagi seperti apa term yang disampaikan oleh Presiden Israel, Simon Peres dalam film dokumenter The Birth of Israel. Bahkan mereka kebanyakan sikapnya jauh lebih mencerminkan islam!

“Sifat gotong royong itu tidak identik dengan uang, akan tetapi identik dengan perasaan, rasa karena ingin mengubah sesuatu untuk hal yang lebih baik”.

Suatu hari sendainya sy bisa menggugat di pengadilan hari akhir. Sy ingin menggugat mereka-mereka dari kaum muslim yang tidak berjuang dalam hal ini. Yaitu memberikan kontribusi yang seharusnya mereka bisa lakukan. Akan tetapi mereka tidak lakukan !!!. Jika mereka tidak ingin menyumbangkan pikiran, atau tenaga mereka, yaa sumbangkan harta kalian pada project2 sosial untuk kemajuan bangsa Indonesia ini, santuni anak yatim, berikan mereka pendidikan, bantu mereka untuk pendidikan mereka, sumbangsikan ilmu kalian dengan membuat produk nyata dalam masyarakat yang keuntungannya bisa kalian gunakan lagi untuk memperbaiki masyaraka lagi.

Saya sangat kagum dari project Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina Jakarta kalau gak salah, yaitu project  Indonesia Mengajar, project ini memperlihatkan betapa hebatnya dia mendatangkan sponsor untuk membiayai dana tersebut, dan menagementnya bagus, dan gagasannya luar biasa menurut saya. Terlepas dari apa yang ada dibelakang dari project itu yang saya tidak tahu itu apakah untuk Allah SWT atau dirinya, sy berpikir bahwa kita perlu membuat hal-hal yang luar biasa untuk memperbaiki sosial masyarakat. Sy rasa impact dari project itu begitu banyak secara psikologi terutama pada anak-anak yang didatangi kampung dan daerahnya. Bayangkan saja jika kampung/daerah itu dikunjungi oleh pemuda-pemuda cerdas negeri ini yang berasal dari sekolah-sekolah ternama maupun tidak (intinya cerdas haha), maka anak-anak yang dikunjungi akan berpikir bahwa sy ingin menjadi seperti kakak ini, kakak itu. Terjadilah figur abstrak di anak itu dan akhirnya ia akan berjuang untuk bangkit dari keterpurukannya baik dari segi ekonomi maupun pendidikan. Kalau gak salah banyak dari teman-teman se-Almamater sy dulunya mengikuti program ini, siapa yang gak mau coba, gajinya 4-5 jutaan kalau gak salah, bahkan lebih, keliling Indonesia lagi hehe. Asyik loh….Ini yang disebut cerdas…Sy pengen buat tulisan lagi mengenai Idealis tapi cerdas!!!

Ya tambah ironis lagi kalau orang Islam tidak ingin menyumbang (berjihad) dalam hal ini yaitu memperbaiki sosial masyarakatnya. Agama ini mengajarkan mengenai paham sosial yang kurang lebih dijelaskan dalam Al Qur’an, kitab mereka. Hubungan secara vertikal dibentuk dengan iman dan takwa kepada Allah SWT, serta mematuhi sunnah-sunnah Muhammad SAW, Rasulullah. Dan secara Horizontal dengan memperbaiki hubungan persaudaraan di kalangan muslim yaitu dengan saling tolong menolong.

Tahukah mengapa sifat “cinta dunia benci kematian” disebutkan dalam hadist kelemahan umat islam di masa mendatang. Di hadist itu Muhammad (Rasulullah) Saw. kurang lebih  mengatakan (tersirat seperti yang sy pahami) bahwa suatu hari jumlah muslim sangat banyak, tetapi musuh-musuh dari  Allah menarik rasa takut mereka terhadap kaum Muslim, dan kaum Muslim bagaikan buih di lautan, banyak tapi tak berarti disebabkan karena penyakit hawn, “cinta dunia benci kematian”. Yah inilah yang terjadi di kalangan muslim.

Sy berbicara disini bukan berarti sy seperti orang yang sangat gigih dan patuh terhadap ritual kegamaan Islam. Sy selayaknya Anda, kadang-kadang melakukan dosa, dan terkang tidak disiplin dalam beberapa ritual keagamaan dan dogma-dogma agama. (sy tetap berjuang untuk patuh).

Kalau kita lihat betapa muslim saat ini mengalami penyakit hawn ini. Padahal hidup ini tidak lain kematian yang tertunda yang melepaskan kita dari indahnya dunia dengan isinya (harta, wanita, dan tahta secara fisik). Di beberapa ucapan Rasulullah dengan salah seorang sahabatnya sekaligus sepupunya Ali bin Abi Thalib sy pahami  bahwa orang yang cerdas di dunia ini adalah orang yang mengetahui kematian, mengenal kematian itu. Pikirannya sudah ada pada tanah yang kita selalu pijak. Lalu apakah dengan mengenal kematian kita sebagai muslim harus tinggal berleha-leha saja, pasrah saja karena semua sudah tercatat takdir dan kejadiannya di Lauh Mahfuz? Tentu tidak, pemahaman Islam seperti digambarkan oleh salah seorang ulama muslim tempo dulu, Mubarak mengatakan bahwa bekerjalah untuk kehidupanmu seakan-akan engkau ini hidup untuk selamanya, dan beribadalah engkau untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok. Yang tergambar dari perkataan beliau adalah sebuah totalitas dalam setiap momen. Tidak ada yang dikorbankan. Dunia harus didapatkan, akhirat lebih-lebih. Namun beberapa dogma dari Muslim menganjurkan kita meninggalkan dunia ini. Itu tidak mengapa, asalkan kita tidak sampai menjadi seorang peminta-minta karena itu dekat dengan kekafiran. Seperti ucapan Rasulullah “kefakiran itu dekat dengan kekafiran”. Jika sekiranya dalam satu momen dimana 2 pilihan harus dihadapkan kepada kita (kepentingan dunia & kepentingan akhirat), maka kita harus bijak sebagai muslim mengutamakan akhirat itu. Namun seseorang yang cerdas mungkin saja bisa membuat dua2nya  bergandengan dimana kepentingan dunia itu ber-impact kepada kepentingan akhirat. Tetapi jika harus, maka tentu seorang muslim dengan legowo harus memilih akhirat itu. Karena dunia ini hanya sementara (fana).

sebuah totalitas dalam setiap momen

Apa yang sy inginkan disini bagi kehidupan sosial agama dan bangsaku ini adalah sebuah restrukturisasi berpikir dalam mengutamakan kepentingan berdasarkan urutan prioritas atribut pada eksistensi komunitas. (continued…)


Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Curhat, Daily Life, Ideologi, Kegelisahan Hatiku, Komunitas, Psichology, Tentang Saya. Bookmark the permalink.

One Response to Shalat Subuh : Saya Memang ‘Gila’ (part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s