Mahasiswa dan Cita-Citanya (part 1)

Kemarin, Rabu 11 Januari 2012  sy dapat sms  dari adik sepupu sy yang sedang menjalani kuliah di Universitas Negeri Makassar, jurusan Sastra Inggris. Isi smsnya menanyakan pendapat saya mengenai cita-cita dalam pandangan mahasiswa. Here we Go……

Mari kita mulai dari kata Mahasiswa. Terdiri dari 2 suku kata yaitu ‘maha’ dan ‘siswa’. Kalau kita artikan masing-masing, maka dengan gamblang kita menyimpulkan bahwa mahasiswa adalah tingkatan pelajar yang matang dari pelajar-pelajar sebelumnya yaitu SMA.

Jadi bagi teman-teman yang sudah lulus dari perguruan tinggi sy rasa tidak perlu untuk menceritakan apa itu MAHASISWA, karena sy rasa teman sudah bekerja sekarang atau berwirausaha skarang. Ada yang nganggur ? Hadou semoga tidaklah amin. Kalaupun gak gawe di perusahaaan orang, ya berkaryalah semampunya, jangan menambahkan daftar pengangguran. Maksudnya tidak memiliki usaha sama sekali dan hanya duduk, tidur, diam di rumah, ataukah keluyuran ke sana kemari di  kampung halaman atau di kota ia lahir hanya karena bingung mau buat apa? Saya rasa jika Anda benar-benar menggunakan waktu muda Anda untuk belajar sewaktu di perkuliahan, memperbaiki karakter Anda yang dulunya pemalu jadi berani tapi gak malu2in :D, dan sterusnya.. maka Anda tentu pasti bisa bekerja dan setidaknya pasti akan selalu ada kegiatan. Sy hanya bisa buat statement buat orang-orang yang sudah lulus dari perguruan tinggi terus masih selalu saja aktif di kegiatan kemahasiswaan dan gak pergi cari-cari kerjaan adalah salah satu orang yang menyia-nyiakan waktu mudanya di bangku kuliah. Sering sy mendengar beberapa orang-orang yang sudah lulus, sering nongkrong di kampusnya, cerita sana sini dengan adik-adik mereka di organisasi kemahasiswaan, dan waktunya biasanya hampir seharian. Hadou…cuma bisa bergumam, ‘yah mahasiswa gagal pengen ngedidik adik dia gagal lagi, cerita sana sini padahal omdo(omong doang),  gak bisa berkarya, dan kerjaannya cuma omdo dia bisa, ngebacot tentang negara, atau apalah. Ini sih sering terjadi di banyak aktivis pendosa. Kerjaaannya cuma kritik sana, kritik sini gak pernah berbuat amal. Shalat keteteran kalau dia muslim (maksudnya jarang ke masjid), kerjaannya cuma menghujat sana sini, memblokir jalan sehingga di doakan sama orang-orang agar sial haha..Gw  pernah bilang orang-orang yang begini adalah one of the trash of society or garbage of socity, (s*ampah masyarakat).

Bagi yang sedang menjalani diri sebagai mahasiswa, marilah kembali kepada jalur rel kereta dari pendidikan itu. Mahasiswa itu lebih menggunakan rasionalitasnya dalam bertindak dan melakukan sesuatu juga dengan penuh pertimbangan yang matang. Sy pernah membaca maupun mendengar sebuah pernyataan bahwa, pucuk dari ilmu itu adalah sebuah wisedom/kebijaksanaan. Dengan kita menjadi seorang pelajar, maka kita terdidik. Terdidik karena ilmu yang diajarkan dibangku kuliah, sehingga kita harusnya memiliki sikap kebijaksanaan yang menetes di diri Anda/kita sebagai mahasiswa.

Tapi lihat jaman sekarang, terkhusus mahasiswa di beberapa kota termasuk kota makassar. Miris banget, perhatikan tuh mahasiswa yang sering aksi sekarang-sekarang. Sy berharap mereka bisa bekerja suatu hari dan memiliki banyak keahlian dan konsep untuk bertahan hidup di masyarakat suatu hari selain menjadi seorang pengalih isu dan merusak tatanan masyarakat untuk kepentingan pribadinya.

Tak mengapa menjadi seorang aktivis tetapi yang utama adalah menjadi orang berilmu terlebih dahulu baru berbicara. Berbicara tanpa sebuah ilmu dengan modal keberanian sama dengan kebodohan. Orang yang mendengar Anda itu tidak semua orang bodoh, Anda bisa dinilai dan jadinya malu kalau apa yang Anda pikirkan adalah sebuah kebodohan dan ketololan berpikir.

Kemudian jika konten yang disampaikan sudah benar dan berdasar pada logika yang tepat, maka kita lanjut kepada hal kedua yaitu metode penyampaian pesan. Sy tidak mempermasalahkan  orang mau keras-keras dan berteriak dalam menyampaikan pesan. Yang terpenting jangan mengambil yang bukan menjadi hak kita. Seperti memacetkan satu kota, sy yakin Anda hanya akan dapat hujatan dan tidak memperjuangkan hak rakyat. Para aktivis sepertinya harus belajar konsep komunikasi dulu baru mulai aksi hehe sehingga efektif tanpa mengambil hak masyarakat.

Sudah hal yang lumrah di zaman-zaman sekarang, mahasiswa terlihat banyak yang egois dalam melakukan sesuatu dan terkadang melakukan sesuatu diluar dari rel pendidikan (menuju kebijaksanaan). Terlihat dari apa yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa, contoh di kota Makassar di beberapa PTS (perguruan Tinggi Swasta) saat ini sudah seperti preman. Kerjaannya bawa pisau/badik ke kampus ..hadou.. Banyak mahasiswa kerjanya demo, bakar ban di tengah jalan sehingga macet total satu kota. Selalu ingin membuat pertikaian secara TIDAK LANGSUNG, yaitu dengan terlalu membanggakan suku atau kabupaten dia hidup, padahal dia gak tau sejarah suku yang ada di sulawesi selatan. Hanya dengar berita-berita angin dari beberapa masyarakat mereka yang dia sendiri tidak tau validitas impormasinya  dst…

Mari kita analisis satu persatu kasusnya.

  • Membawa pisau/badik ke kampus.. Lah ini bingung dah ngapain coba ya? Untuk berjaga-jaga? Terus yang aneh2 lagi yaitu beraninya bawa begituan(badik/pisau) di dalam kampus. Berlindung di balik kata mahasiswa dan pelajar yang melekat pada dirinya. Yah sebaiknya keluarlah dari kampus, dan tanggalkan kata MAHASISWA yang melekat pada diri Anda jika Anda berpikiran seperti itu. Ke kampus ya bawa pensil/pena hehe. Sy dengan yakin bahwa orang-orang yang seperti ini adalah anak muda penakut. Kerjaannya kumpul-kumpul bersama teman nakalnya baru berani untuk beraksi preman. Sy pernah loh nonton video orang kebal (preman) yang ditembak pistol gak mempan2, hingga akhirnya bisa mati melalui salah seorang snifer dari kepolisian (entah apa yang diikutkan di peluru itu hingga bisa menembus, sebuah kekuatan mistis juga ada disitu). Kalau mau seperti dia, si preman itu, ya sudah keluar dari kampus. Intinya jangan berlindung di kata MAHASISWA dan KAMPUS.
  • Demo, bakar ban ditengah jalan hingga MACET . Tak usah dijelaskan panjang lebar. Buat aja sebuah kuesioner, tanyakan kepada orang2 yang dibuat mereka macet. Hitung berapa yang menghujatnya. Hmm sy rasa sudah bisa terjawab.

……continued….

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mahasiswa dan Cita-Citanya (part 1)

  1. rahmah says:

    Setuju !!!
    mahasiswa belajarlah dengan baik, selesai tepat waktu, & get a good job

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s