Relativitas Paradigma

Kemarin sy sudah menyinggung mengenai mahasiswa, walaupun tidak lengkap dan masih kurang sistematis. Setidaknya ada gambaran mengenai pandangan saya tentang atribut mahasiswa yang melekat pada pemuda. Perlu digaris bawahi ini adalah OPINI, bukan sebuah kemutlakan. Anda boleh menerima, boleh skeptis, itu sah-sah saja … :D. Terkadang sy mendapatkan orang selalu berkata, “ah itu mah subjektivitas“. Sy hanya bisa katakan bahwa tidak ada kebenaran objective di dunia ini tetapi secara hakiki itu ada. Contoh bandingkan jika paradigma agama yang digunakan. Antara agama yang satu dengan yang lainnya memiliki paradigma berbeda, dan masing-masing di dalam agama itu terdapat kebenaran MENURUT koridor agama tersebut. Dan sy yakin di antara subjektivitas penilaian hal itu pasti ada kebenaran yang objektif yang bisa dikatakan sebagai kebenaran hakiki. Sehingga kebenaran mutlak atau objektif itu adalah kebenaran subjektivitas pada sebuah paradigma tertentu. Yang menjadi patokan kebenaran adalah paradigma itu. Paradigma  itulah yang akan membenarkan hal tersebut.

Kalau begitu akan terjadi sebuah relativitas dalam paradigma tersebut. Saya hanya bisa menjawab, “ya“. Selayaknya teori Einstein mengenai relativitas. Maka relativitas akan selalu terjadi dan akan ada yang benar-benar hakiki. Untuk lebih jelasnya mari kita sedikit menyinggung teori Einstein mengenai relativitas.

Waktu SMA dulu bagi yang mengambil jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) mereka mempelajari mengenai teori relativitas di pelajaran Fisika. Untuk contoh relativitas mari kita ambil ilustrasi cerita berikut. “sebuah pesawat luar angkasa bergerak dengan kecepatan cahaya (ukuran kecepatannya dalam satuan cahaya), melintas di atas sebuah lapangan bola. Pilot yang melihat lapangan bola akan memiliki ukuran panjang yang berbeda dengan ukuran panjang lapangan bola yang sungguhnya. Begitupun orang yang ada di lapangan akan melihat ukuran pesawat berbeda dengan ukuran yang sesungguhnya”.

Nah mari kita melihat sebuah 2 kebenaran dalam cerita tersebut. Misalkan ukuran panjang lapangan bola yang diperoleh oleh pesawat tersebut adalah L, dan ukuran panjang lapangan bola yang diukur oleh orang yang ada di lapangan bola tersebut adalah M. Maka kedua ukuran lapangan yang dihasilkan adalah benar. Tergantung dimana ia menjadi. Jika sy di posisi pilot pesawat maka ya benar hasil ukurannya. Kalau sy di bumi ya M adalah ukurannya. Namun dari kedua situasi tersebut memiliki kebenaran hakiki dari ukuran lapangan bola tersebut yaitu M. Karena memang bendanya yaitu lapangan ada di Bumi. Dan ukurannya memang ada disitu. 1 meter dimanapun sama. Lalu ukuran yang diperoleh oleh pilot pesawat itu sebenarnya untuk apa. Nah jangan tanyakan ke saya, tanyakan ke pilot pesawat super kencang itu. sy rasa dia akan menjawab hal tersebut.

Seperti itu juga yang terjadi dengan sebuah pendapat. Misalkan kita mengatakan kepada teman/kawan kita, “ah kamu EGOIS!!!”. Coba analisis deh, siapa yang egois? yang sedang mengucapkan kata EGOIS, atau yang sedang dihakimi EGOIS? Karena ketika kita mengucapkan kata EGOIS maka boleh jadi kita yang EGOIS telah mengucakan kata EGOIS kepada kawan kita. Lalu siapa yang egois?

Seperti juga halnya jika ditanyakan kepada kedua orang yang di atas, yaitu kasus pilot pesawat dengan orang yang ada di lapangan bola tersebut. Si pilot akan menjawab ukuran lapangan bola adalah L, kemudian orang yang ada di lapangan bola akan menjawab ukurannya M. Dan sy rasa ada kebenaran mutlak disitu. Tak perlu di jawab berapa ukuran hakiki dari lapangan bola itu.

Untuk masalah kasus agama sy hanya membuat catatan penting yaitu, kasus agama adalah murni kasus validitas informasi yang mengakibatkan relativitas paradigma. Tetapi yakinlah ada kebenaran hakiki di dalamnya.

MENENTUKAN SIKAP

Kita telah berbicara mengenai relativitas antara 2 objek. Mari kita lanjutkan kepada tingkatan selanjutnya setelah memahami relativitas paradigma, yaitu menentukan sikap. Ketika kita sudah paham hal ini maka sudah selayaknya orang akan menentukan sikap. 

Jika kita menganggap kebenaran itu bernilai 1 dan kesalahan itu adalah 0. Maka sy akan menggambarkan 3 jenis orang yang terjadi pada sebuah masalah. Yaitu pertama menyetujui salah satunya. Kedua menolak. Ketiga menolak untuk menyetujui dan menolak untuk menolak. Nilai yang diperoleh dari tiga orang itu yaitu :

  1. Salah satu orang yang akan mendapatkan nilai 1. Yaitu orang yang tepat memilih.
  2. Orang yang akan mendapatkan nilai 0, yaitu orang yang memilih tetapi tidak tepat memilih.
  3. Orang yang sudah pasti akan mendapatkan nilai 0, karena tidak mencoba peluang 1/2 dari pilihan tersebut. Kalau dalam masalah agama ini adalah orang atheis, maka harus berhati-hati jika suatu hari ternyata ada surga dan neraka 😀 hihi…

–FL–

 

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Ideologi, Kegelisahan Hatiku, Opini. Bookmark the permalink.

One Response to Relativitas Paradigma

  1. giewahyudi says:

    Dari soal mahasiswa sampai soal atheis, itu semua benar.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s