Relung Hati

Kuingat saat kudaki gunung yang pendek itu.
Kuingat saat kumencoba menoleh kubelakang.
Gunung, beserta pohon-pohonnya yang rindang, serta bebatuannya mengatakan “Jangan! Jangan! tak usah kau menoleh ke Belakang” Biarlah, biarlah. Biarlah dirimu sendiri disini. Kami masih setia menemanimu. Mereka hanya sibuk pada diri mereka masing-masing. Sibuk pada kesenangan mereka, tak peduli lagi pada sesamanya. Mereka sibuk pada jabatanyang dimilikinya, jabatan yang semu. Mereka sibuk untuk dikatakan kaya, mereka sibuk untuk dikatakan dermawan.”
Diriku bingung, ku terus berjalan ke atas melewati ilalang yang tersenyum pada ku dikarenakan melihat manusia yang aneh yang berjalan melintasinya. Sang ilalang mungkin ingin menyapa dan bertanya, “Mengapa kau hanya sendirian? Apakah tidak ada lagi yang menyayangi mu di bawah sana?
Kebingunganku terus kulanjutkan dengan langkah ingin semakin menjauh,berharap aku dapat bertemu sesuatu di puncak gunung itu #Garut 2010

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Sastra dan Puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s