Memelas dan Merendah atau Berpura-pura?

Di masyarakat Sulawesi Selatan, ada fenomena dimana sy melihat itu sebagai sifat memelas, kadang-kadang merendah tapi jg berpura-pura, terkadang hanya sebuah motif untuk dipuji saja menurut saya.

Sy mencoba mengingat apa kata-kata yang sy ketahui mengenai ini. Hmmm seperti ‘kodong’, ‘kasian’, ‘dikka’, dan lupa :D. ‘kodong’ itu kurang lebih sama dengan ‘kasian’, atau jangan2 sama lagi haha..yang jelas 2 kata ini paling sy dengar dari mulut2 pribumi Sulawesi Selatan. ‘Dikka’ itu seperti perasaan empati kepada orang-orang yang kita kasihani. Kata ‘dikka’ ini ditemukan di masyarkaat Toraja dan Luwu.

Di kalangan masyarakat miskin yah kurang lebih terlihat seperti memelas. Wadou sy gak senang, masyarakat begini. Sudah miskin, memelas lagi,harusnya tambah kerja keras dan semangat untuk bekerja!

Di kalangan beberapa orang, digunakan untuk merendah saja. Biar tidak disinggung ini itu sembari diikuti sindiran. Contoh, ‘motor ji sy punya kodong, tidak seperti kamu yang punya mobil’. Hadou sama saja, sy gak senang orang yang selalu merendah! Kadang-kadang ada juga yang merendah hanya untuk dipuji.

Sampai-sampai kucing di pinggiran kota pun semakin lihai dalam memelas, apa kucing ini terpengaruh juga yah ? 😕  Kok malah mikirin kucing hahaha.. Iya ini sy kadang-kadang lihat kucing memelas. Sy gak senang dengan hal seperti itu. Bukan berarti sy suka anjing. Wadou kalau anjing jangan dah, kaget-kaget sy dengan gonggongannya dan juga takut dengan gigi taringnya. 

Kadang-kadang sy juga kebawa-bawa untuk seperti itu, tapi sy belajar untuk tidak seperti mereka. Itu sifat masyarakat lemah menurut saya, dan kurang lebih seperti masyarakat pencemburu juga yang tidak sanggup melakukan sesuatu selain memelas dan menyindir, serta berceloteh saja tanpa berbuat. Harusnya kita belajar untuk tidak selalu memelas, merendah, dan berpura-pura. Itu jauh lebih baik. Anehnya lagi karena kita tidak berpikir seperti mereka, kita malah dikira meninggi haha. Pengukuran yang aneh 😀

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Budaya, Curhat, Ideologi. Bookmark the permalink.

8 Responses to Memelas dan Merendah atau Berpura-pura?

  1. biasanya memelas itu senjata ampuh bagi pengemis untuk menimba rasa iba dari para dermawan… 🙂

  2. niee says:

    setuju.. aku juga gak suka dengan orang yang pura2 merendah gitu.. kalau bisa ya bilang bisa, dan kalau gak bisa ya usaha.. hmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s