Budaya Antri & Empati

Kemarin siang, sy pergi membeli makanan di warung langganan sy beberapa hari terkhir ini. Daerah tempat tinggal saya saat ini crowded karena mahasiswa Universitas Hasanuddin kota Makassar  kos-kosan di daerah ini. Seperti biasa, jadwal makan siang di tempat ini sangat ramai, karena mereka (baca:mahasiswa) berbondong-bondong untuk datang makan siang di tempat ini.

Saat itu sy sementara antri untuk menunggu ditanya, mengenai pesanan saya. Tiba-tiba ada beberapa orang mahasiswa langsung aja datang ngomong tanpa basa-basi berdiri disamping sy, “mbak sy pesan nasi ayam kecap(menu murah meria mahasiswa hanya Rp 6ribu) 2 bungkus” , padahal dia ada di belakang sy sebelumnya (maksudnya dia dah tahu sy sedang antri). Yah sy kesal sih.. menggerutu dalam hati, bahkan pengen bilang anji*g nih mahasiswa kurang aj*r. Tiba-tiba muncul lagi di sampingnya mahasiswa mesan menu yang sama. Tiba-tiba aja sy langsung ngomong dan marah. “Mbak, sy dari tadi antri disini, mbak gak lihat nih?”. haha Akhirnya dia langsung menghentikan request dari pelanggan mahasiswa yang tidak antri itu.

Dari cerita singkat di atas kita dapat banyak gambarang bagaimana mahasiwa jaman sekarnag, yang sudah terdidik oleh program pemerintah yang hampir gagal, 9 tahun pendidikan dini, tidak mampu menempa sistem mekanisme manusia ideal di dalam masyarakat. Budaya antri pun belum bisa dilakukan dengan baik. Sy gak menyalahkan sepenuhnya dengan mbaknya, karena mbaknya hanya fokus ngambil makanan request yang tak kunjung-kunjung berhenti di saat makan siang itu. Pegawai warungnya banyak loh…Dari sini sy juga bisa menggambarkan bagaimana ilustrasi birokrasi kita hingga saat ini. Yah seperti inilah, seperti di antrian warung makan ini. Dimana tidak adanya mekanisme antri yang sesuai prosedur, ditambah masyarakat gagal melakukan budaya antri karena tidak dibiasakan.

Sy selalu  memegang prinsip mengenai norma-norma masyarakat ideal, bukan karena kita tidak tahu, akan tetapi tidak membiasakannya. Mengapa tidak membiasakannya? dikarenakan tidak ada yang mendidik? Rata-rata hanya formalitas tanpa penjiwaan.

Dan sy sedih, mahasiswa sekarang rata-rata belum bisa mempelajari arti sikap empati ini. Padahal dia yang nanti mendidik dan menciptakan sosial.

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Bad Day, Curhat, Daily Life, Ideologi. Bookmark the permalink.

5 Responses to Budaya Antri & Empati

  1. pendidikan yang tinggi tidak selalu bisa bikin orang membudayakan sikap antri dan mempunyai rasa empati…

  2. waduh.,jadi harus introspeksi, saya sering seperti itu tapi tidak bermaksud untuk didahulukan. hanya memberi tahu kalau saya sudah memesan, sambil nyari tempat duduk. salah ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s