Settled Down & Me

Bagaimana jika cinta pertama Anda sudah menikah? Akankah Anda memutar lagunya Adele “Someone Like You” berulang-ulang. Hahaha Wah wah, keknya ini lagu orang melankolia yang bener-bener merasa kehilangan. Tapi kalau itu sahabat-sahabat netter merasakan hal ini, maka tak apalah. Sy juga pernahkah melakukannya :).

Bulan Oktober tahun lalu, 2012, kekasih hati sy telah menikah bersama seorang yang baik hati, saya kurang hafal namanya tapi orang itu adalah orang yang baik hati menurut sy. Kekasih hati sy ini orang yang sy coba ikhlaskan sejak semester 2 sewaktu sy masih kuliah di kota Parahyangan, Bandung. Waktu itu tahun awal-awal 2007-an, semua masalah berkumpul pada waktu  yang sama. Dan benar-benar memberikan tekanan yang sangat luar biasa di saat saya masih juga harus menjalani di kampus penuh tekanan batin itu. Yah ITB, teman-teman kampus mengatakan Institut Tekanan Batin. Kebayang aja kuliah dengan teks-book yang tebel-tebel dan tugas yang bikin puyeng-puyeng, kemudian ditimpa 2 masalah gede dan itu adalah core hidup kita.

Masalah pertama, Gadis yang sangat kucintai direbut orang. Gadis yang yang merupakan cinta pertama sy   yang merupakan teman se-SMA itu, yang menjadi alasan sy harus pergi ke Bandung, yang sy meninggalkan impian kecil dan impian keluarga besar yaitu menjadi seorang dokter, hiks hiks.

Lanjut Baca

Yah sejak kecil, sejak SMP kelas I sy dah memilih untuk menjadi seorang “Dokter Bedah” suatu hari nanti. Dan itu berubah arah, hahaha, apapun itu, inilah takdir hidup sy, tentu masih banyak pertimbangan yang tepat. Merujuk kepada kepribadianku dan tingkat intelegensia sy, sy sepertinya jauh lebih cocok menjadi ‘engginer’ dibandingkan menjadi dokter bedah. Sy ternyata ‘takut darah’, ‘gak tegaan’, orang dokter bedah kan tega, bedah-bedah orang, ih serem, dan sy lebih senang bermain logic, dan tantangan terhadap kalkulasi dan imaginasi-imaginasi untuk membuat dan menyelesaikan sesuatu hal.

Back to the Girl who I really have a huge crash on her, gadis itu sangat periang, seperti diriku kebanyakan, namun sy ternyata memiliki penyakit terpendam yang itu disebabkan keluarga sy sendiri. Jika harus dipertanyakan maka ujung-ujungnya adalah takdir hidup :). Gadis itu ingin tetap sy pertahankan, semacam berjuanglah untuk mempertahankannya. Namun sy mendapatkan banyak kebimbangan karena sy juga dirundung masalah keluarga di waktu itu. Akibatnya sy menjadi sangat depresi, melankolia, dan menyendiri, menarik diri dari pergaulan se-SMA, bahkan teman-teman se-angkatan di Sekolah Teknik Elektro & Informatika (STEI 2006). Semua orang tentu mempertanyakan, ada apa dengan diri saya. Yang mengetahui hanya teman terdekat sy pada waktu itu, yaitu Abdul Rachmansyah, Tekni Sipil ITB, salah seorang kawan terbaik saya, dan mungkin dialah yang terbaik. Mungkin sekarang sibuk ‘ngelutusin gunung’ di Kalimantan dengan kawan-kawannya. Mungkin diri sy sudah mulai diabaikan, tapi tak apalah, you are still the best on my heart friend,  I will be always remember you, I will. Dan masih banyak lagi teman-teman terbaik yang mungkin sahabat-sahabat tidak memiliki teman-teman yg sy miliki, I am sure.

Karena sangat-sangat kesepian di waktu itu, pikiranku mulai liar dan ingin mencoba berpikir liar dan kritis. Kebetulan sy masuk ke jurusan Teknologi Informatika, setahu saya, anak-anak disini berpikirnya logic dan benar-benar liar, dan sangat-sangat kritis. Sehingga sy pun tentu sangat terpengaruh, sayangnya sy waktu itu tidak liar untuk ‘ngoding program’. Sy lebih memilih untuk untuk mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat, karena sangat menggelitik di pikiran sy, mengapa keluarga sy seperti ini dan seperti itu, mengapa ayah begini dan begitu, mengapa orang bisa begini dan begitu, mengapa ada orang yang mengharamkan musik dan ada yang tidak, mengapa ini dan itu, intinya mengapa?  mengapa dan mengapa? Oh bener-bener ini “mengapa”? Selalu saja menjadi bagian diri sy. Sy menghabiskan banyak permasalahan hidup sy dengan masalah religi di waktu itu. Mungkin inilah yang mengakibatkan sy tidak jadi bunuh diri di kala itu. Bahkan saat diwawancarai oleh HRD dari perusahaan pak Yusuf Kalla untuk mendapatkan beasiswa, mereka bengong-bengong, loh ini anak masih ketawa-ketawa aja hahaha…

Sy menghabiskan banyak hal berhubungan dengan agama & dogma,  pemikiran & filsafat, komunitas, hubungan-antara 2 orang atau lebih seperti kata “pacaran”, bermain olahraga basket. Serulah jika harus diceritakan pengalaman-pengalaman hidup yang segudang ini yang sy dapatkan hanya dalam hitungan tahun. Sy selalu update teori-teori itu dikepala saya, dan selalu sy update seiring dengan selalu membaca, dan membaca, di tahun 2012 sy masuk ke wilayah hukum dan ekonomi, dan akhirnya kembali menjadi seorang programmer, meskipun cupu dibandingkan dengan teman-teman dari Teknik Informatika ITB, malu rasanya 😦

Hampir semua orang tahu dari teman-teman SMA sy sangat mencintai wanita yang sy kejar itu, tapi mungkin sedikit  yang tahu bahwa sy bahagia ketika mengetahui dia bahagia, bahkan jika dia memiliki anak, andai bisa kuanggap sebagai anak angkat, maka sy akan bahagia, sy sangat-sangat mencintainya, tapi cinta itu tak harus berjodoh, karena masalah jodoh itu hanya urusan Allah swt semata. Untukmu “Dila”, sy tahu kamu begitu tak enak pada diri saya, sampai kamu harus memblock diriku dari duniamu bahkan di dunia internet, hari ini kukatakan bahwa suatu hari nanti jika kita bertemu lagi, aku sudah sangat kuat untuk menerima kenyataan hidup diriku, jadi kuatlah untuk menerima takdir kita jika suatu hari kita akan bertemu di meja reuni, di meja kerja ketika suatu hari nanti takdir mempertemukan  kita,  Ari orangnya baik kok, orangnya masih baik, mungkin saat kita masih muda dahulu kala, saat-saat kita masih kuliah ari dan kamu labil. Sudah begitu banyak wanita yang menjadi korban perasaan akibat perasaanku padamu, sudah banyak air mata yang jatuh dan menetes atas masalah hidup yang sy rasakan. Maafkan sy, jika baru saat ini sy baru bisa move-on,  sy harus melanglang buana, ke Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Jakarta, Bandung, Garut, Bintaro, Solo, Surabaya, telah kujelajahi hanya untuk mendapatkan diriku yang tegar. Untungnya sy masih miskin, jika tidak sy mungkin akan keluar negeri ke manapun itu, atau membuat perahu layar yang sangat besar dan mengarungi samudera pasifik. Gunung pun telah berkali-kali kudaki, bahkan sy memiliki keinginan untuk mendaki puncak Gunung Jaya Wijaya suatu hari nanti. Tahukah kamu ‘Dila’ bahwa sy pernah  mendaki gunung Guntur di Garut seorang diri, sendiri menantang maut, sendiri hanya untuk mengenal diri sy sendiri. Tahukah kamu bahwa sy bertemu dengan 3 elang, elang jawa yang bulu-bulunya loreng. Pertama kali sy merasa ketakutan karena seorang diri di atas gunung, dan berpikir sy bisa jadi mangsa dia, soalnya  mereka itu carnivora, meskipun hanya seperti ayam madu besarnya, tapi tetap aja mindset pikiran sy mereka itu menyeramkan, mereka (3 elang itu) menatap mata sy, mereka begitu tenang, mereka berjarak tidak lebih 50 meter dari diri sy. Semakin sy tatapi, mereka begitu tenang, sehingga sy semakin mendekati mereka, dan tentunya mereka kemudian terbang lagi. Tahukah kamu “Dila”, sewaktu sy tahu statusmu memiliki hubungan dengan mantan pacarmu yang tidak jadi juga menikah dengan dirimu, dari status friendstermu ketika sy maen di Lab kampusmu bersama Hendra dan Eki, sy pulang sendirian dengan jalan kaki di malam hari dari Dayeuh Kolot hingga Buah Batu, Sy menangis seperti anak kecil, tapi langsung berubah saat melihat MotoGP, waktu itu Rossi menang 6 detik lebih unggul dari urutan kedua balapan itu, kemudian setelah itu lanjut lagi menangis dan berjalan kaki, kemudian pulang ke kota Tamansari naik Ojek setelah bertemu Ojek di tengah malam itu, sekitar pukul 2 pagi. Sy sudah mau bunuh diri ketika itu di jembatan layang tamansari dekat kampus ITB, tapi sy kembali naik padahal sy sudah tinggal melepaskan tangan sy semuanya maka semua akan berakhir, tapi sy langsung kepikiran headline news berita kalau sy sudah tewas. Masa sy harus malu di kuburan mendengarkan berita-berita sana sini tentang diriku yang mati dikarenakan hal ini. Tahukah kamu sy berkali-kali naik di tempat tertinggi di ITB yang merupakan tempat terlarang untuk dinaiki puncaknya, bahkan sy pernah ditutupkan pintu turun 🙂 , mungkin anak-anak baru disana tidak pernah merasakannya lagi. Tahukah kamu bahwa  sy terus berkelana mencari wanita yang dapat menggantikanmu, namun tetap saja kamu hadir di pikiran saya. Yah banyak yang telah kulakukan, dan semakin kesini sy semakin baik, dan bisa move-on, dan sy sekarang sedang menjalani proses perbaikan kejiwaan kembali. Asal kamu tahu sy menjadi bipolar diseases karena masalah hidup yang sy alami, tetapi selalu ada jalan yang baik untuk memperbaiki diri..”
JAS PUTIH, Jangan sekali-kali Lupa Untuk bermimpi Hari esok”, itulah jargon diri sy  saat ini. Inilah yang akan kuajarkan kepada anak-anak bangsa ini yang ada di Indonesia Timur. Mengapa Indonesia Timur? Yah sy lahir disini, bukan dari Indonesia Barat. Indonesia Barat sudah banyak yang cerdas disana, sudah banyak yang berhasil disana, mereka semua kawan-kawan sy, teman-teman seperjuangan, mereka2 yang ada di Indonesia Barat siap membantu karena kita satu yaitu Bangsa Indonesia, bangsa majemuk yang penuh dengan semangat tepo-seliro dari bentangan ujung Aceh hingga ujung Papua, kita satu yaitu Tanah Air Indonesia.

Sy malu tentunya, jika dikaitkan dengan jurusan sy yaitu Teknologi Informatika, karena belum bisa seperti kawan-kawan yang ada di sana, tapi sy tidak akan menyerah, sy akan berjuang semaksimal mungkin di bidang itu. Sy tentu akan jauh lebih berkontribusi pada bidang ini, karena dari sini lah background hidup sy, meskipun sy juga tentu akan terjun di hal-hal yang berbau politik, namun sy tidak tertarik pada politik praktis. We are more genius, the young generation of informatic, we can handle this world by our type.

Kemudian yang kedua yaitu mengenai keluarga, sy tahu bahwa kita memiliki masalah keuarga, tapi seiring dengan waktu itu semua akan berlalu. Sy hanya ingin mengatakan bahwa keluarga adalah core hidup kita. Jika suatu keluarga besar keliru dalma ideologi hidupnya, maka kelirulah semuanya. Sehingga semoga kawan-kawan bisa memperbaiki ideologinya masing-masing. Tanamlah nilai-nilai yang baik yang akan menjadi pondasi dasar suatu hari nanti ketika Anda sudah memiliki keluarga primer sendiri. #Makassar, 16/03/2013

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Cinta, Curhat, Ideologi, Kegelisahan Hatiku, Momen Unik, Tentang Saya, Traveling. Bookmark the permalink.

2 Responses to Settled Down & Me

  1. otidh says:

    Sepertinya getir sekali bang ceritanya. Nggak nyangka abang pernah sampai berpikir untuk bunuh diri.

    Ngomong-ngomong tentang Informatika, saya yakin bang Fachrie nggak cupu seperti yg abang katakan. Masih ingat saya waktu awal masuk jurusan Teknik Informatika saya belajar tentang konsep pointer dsb pada bahasa C ke abang. Saya baru ngeh itu setelah abang ajarkan. Jadi soal potensi, saya yakin abang sudah punya itu, tinggal menggalinya saja. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s