Sepantasnya

Hari ini merupakan hari yang berbahagia bagi diri sy. Ada 2 hal yang membuat sy berbahagia. Satu bersifat materi dan satu bersifat i-materi. Yang bersifat materi adalah karena sy mendapatkan jawaban dari Allah swt mengenai kegiatan sy, yang membebani pikiran sy beberapa bulan terakhir ini. Laptop sudah hilang, uang sudah habis, badan pernah sakit, dan sekarang sy mendapatkan bantuan dana dari Jamkerindo sebesar 3 jutu rupiah. Alhamdulillah, ‘doa’ itu sesuatu  🙂

Yang bersifat i-materi terjadi sekitar pukul 5 sore, hari ini. Ketika sy berbincang dengan seorang  wanita yang menceritakan tentang pernikahan teman sekelas sy dahulu. Wanita ini adalah adik kelas dari teman sekelas sy. Maklum di usia kami yang sekarang, perbincangan ini adalah lumrah dan sepertinya memang sepantasnya.

Mungkin ada yang mengatakan, masih terlalu muda, namun jauh lebih baik karena itu akan mencegah kita dari perzinahan. Rasul kami (para muslim), Muhammad saw, menganjurkan demikian, yaitu mempercepat pernikahan agar tidak melakukan perzinahan yang itu merupakan pintu2 neraka. Jika belum mampu maka sebaiknya berpuasa. Sayangnya sy baru mau memulai puasa.

Yah “sepantasnya”. Kata inilah menjadi kata kunci kebahagian sy hari ini yang bersifat i-materi. Kata ‘sepantasnya’ ini menjadi salah satu titik kesadaran sy hari ini. Kata ini mungkin sy mengenalnya,  mengetahui dengan detil maknanya sebelumnya. Hanya saja, melalui perbincangan tentang kisah yang terjadi pada teman sekelas sy sewaktu SMA  yang diceritakan oleh dokter ‘adik angkatan’ teman sekelas sy waktu SMA ini, membuat sy berpikir dan tersenyum.

*kita cerita sejenak

Kata ‘sepantasnya’ ini bisa beririsan dengan kata yang mewakili  ‘nilai’ yang ada dalam kebudayaan masyarakat bugis. Nilai yang sy pelajari ketika membaca buku karangan  dari Prof . Dr. H. A. Rahman Rahim. Judul dari buku itu adalah “Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis”. Bagi masyarakat bugis dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan yang ingin membacanya, silahkan cari di perpustakaan-perpustakaan lama. Atau boleh datang bertemu dengan sy :). Dari buku itu pula sy akhirnya mengetahui bahwa ada persilangan antara putri kerajaan Majapahit dan Putra Kerajaan Luwu dahulu kala di abad 13 Masehi yang anaknya menjadi  Raja Luwu ke-2 pada waktu itu. Dari situ pula sy mengetahui arti kata ‘mapparola‘ yang menjadi budaya dari masyarakat bugis yang berkaitan dengan pernikahan. Buku itu recomended untuk Anda baca dan telaah, karena dibahas secara scientific. Dan tak diragukan lagi kehebatan dari Professor ini. Sy menjaminnya. (who the ‘heaven’ am I to judge someone 😀 ).

*Tulisan terhambat dikarenakan shalat maghrib dilanjutkan cerita dengan member kantor yang berkepanjangan

Kata ‘sepantasnya’ ini beririsan dengan nilai ‘assitinajang‘ yang dijelaskan dalam buku itu. Assitinajang itu lebih tepatnya jika dikonvert dalam bahasa Indonesia, yaitu ‘kepatutan‘. Nilai ‘assitinajang’ ini adalah nilai dasar yang ada dalam kebudayaan bugis yang mencakup di setiap spektrum perilaku dalam berinteraksi, baik interaksi perorangan maupun interaksi perkelompok. Sebagai contoh dalam bertutur kata terhadap seseorang, maka kita harus bertutur kata yang ‘patut’. Beda jika bertutur kata terhadap orang yang lebih rendah (secara lahiriah) dibandingkan bertutur kata dengan orang yang lebih tinggi (secara lahiriah) di atas kita. Misal kita seorang penguasa dalam hal ini Raja  bercerita dengan rakyat jelata, maka sang penguasa pun memiliki cara tutur kata tersendiri, begitu pula sebaliknya, sang Rakyat memiliki cara bertutur kata terhadap penguasa (Raja) itu. Yah lumrahlah, sy rasa orang berpendidikan sepertinya sudah tau mengenai ini. Ini mengenai etika.

Sekadar tahu saja sepertinya  tidak cukup. Akan tetapi harus diikuti dengan melakukan yang kita tahu itu. Sehingga tak jarang kita temukan fakta dalam sehari-hari di kota Makassar, masyarakat yang memiliki ‘ijazah’ ‘sepertinya’ tidak  beretika dalam bertutur kata. Mereka mengetahuinya tapi tidak melakukannya. Sehingga akhirnya hal yang  baik  yang mereka ketahui itu tidak membudaya dalam diri mereka. Bukankah kita kenal idiom ‘ala bisa karena biasa’.  Salah satu efek lanjutan karena tidak membiasakannya adalah tidak mampu melakukan segmentasi etika. Masyarakat akademisi Makassar pada umumnya mencampur adukkan cara bertutur kata dengan masyarakat akademisi  dengan cara bertutur kata  dengan masyarakat secara umum dalam satu peristiwa. Berbicara dengan dosen itu berbeda dengan  berbicara dengan orang yang dituakan dalam  masyarakat. Berbicara dengan dosen adalah berbicara dalam lingkungan akademisi  yang memiliki etika tersendiri. Kita tidak perlu membumbui dengan bahasa-bahasa  yang berbau kebudayaan yang sifatnya kedaerahan. Kita boleh berdebat mengenai hal ini. Dan sy siap menemani Anda dalam rangka menempa pemikiran kita bersama-sama.

Cukup penjelasan tentang nilai assitinajang ini. Kembali ke permasalahan tentang kata ‘sepantasnya’. Seperti yang sy sebutkan di atas bahwa sy mendapatkan kesimpulan mengenai kata ‘sepantasnya’ itu sebagai jawaban dari salah satu kegelisahan hati sy sendiri. Seperti terulang kembali ketika sy memutuskan untuk tidak melanjutkan perjuangan sy mengejar wanita yang membuat sy ke Bandung itu. Sy memutuskan untuk tidak melakukan perjuangan itu karena sy merasa pada waktu itu sy tidak pantas. Sy menanamkan pemahaman ini ke dalam diri sy melihat historis ibu-bapak  sy dan keadaan ibu-bapak  sy pada waktu itu. Dan sekarang, cerita bersama wanita ini, mengenai kisah pernikahan senior  kampusnya yang merupakan teman sekelas sy waktu SMA dahulu kala, sy menambah pemahaman baru dan sy pun merasa tertegun dengan kata ‘sepantasnya’ itu.

Sy berpikir apakah sy pantas dengan wanita yang sy inginkan? yang terdefinisi dengan jelas  dalam kepala sy. Dengan keadaan seperti ini? Dan cita-cita yang sy inginkan ? Apakah akan pantas? Tidak pernah terbayangkan dalam diri sy ketika ayah atau ibu sy ‘mappetuada’, kegiatan meminang dalam kebudayaan masyarakat bugis. Sebenarnya sy selalu mempertanyakan masalah ini jauh-jauh hari sembunyi-sembunyi tentunya. Ibu dan Ayah sy pun tidak pernah menceritakan masalah ini, mengenai pernikahan kami secara serius. Pernah sekali dia berkata kepada diri sy, “ari, kalau kamu mau nikah ada uang segini, sy(ibu sy) sebagai orang tua juga akan berdosa jika tidak menikahkan kamu secepatnya”.  Sy tidak menjawab, diam dan mengalihkannya karena sebenarnya dana  itu adalah dana untuk adik sy yang kecil untuk bersekolah tentunya. Sy telah menghabiskan uang banyak untuk bersekolah, dan juga uang sudah habis karena pengobatan sy akibat gangguan jiwa yang sy alami, yang sy rasa itu hanya karena sy depresi dengan keadaan yang semakin mencekam akibat pikiran sy sendiri dan akibat keinginan sy sendiri.

Sy selalu memantau di facebook. Maklum teman-teman dari SMAN 17 Makassar, dari ITB selalu memperlihatkan foto-foto saat mereka menikah, bahkan dalam  kegiatan  ‘mappetuada’ sekarang ini. Dari percakapan tadi itu kalimat “bagaimana sepantasnya?”. Yah ini lah intinya, bagaimana kita membuat pasangan kita itu sepantasnya mendapatkan perlakuan itu? mendapatkan pelaminan itu? Mendapatkan mahar itu? Dengan keadaannya yang demikian? Bagaimana jawaban-jawaban itu akan terasa pantas dengan keadaaanya dan keluarganya tentunya. Sungguh hal yang luar biasa dan membuat sy tertegun, akibat olahan pertanyaan yang datang dari pikiran sy sendiri. Akibat respon terhadap kalimat  yang terekam  ke dalam otak sy dan menembus lubuk hati sy.

Dan kini sy bergumam, dan otak sy terus bekerja 😀

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Budaya, Cinta, Kegelisahan Hatiku, Tentang Saya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s