Magrib “kompleksku” Mengesankan

29 April 2013

Sy akhirnya menyempatkan lagi datang ke rumah Hendra. Rumah sy besar selama 2 tahun sejak sy naik kelas 2 SMA. Rumah yang sehari-hari menjadikan diri sy seperti anggota keluarga. Ayahnya yang menempa diri sy juga yang sudah sy anggap seperti ayahku sendiri. Bahkan terasa berelebih, karena sy sepertinya sy jauh lebih banyak berkomunikasi/bercengkrama dengan beliau dibandingkan ayahku sendiri.

Sy tiba di rumah beliau 5:30-an, dan bertemu dengan ‘saudara’ sy, Nining, adiknya Hendra  yang sedang ingin menyelesaikan skripsinya. Nining kuliah di kampus UIN, kampus yang dulu ditempati oleh ibu sy berkuliah di kota Makassar saat ibu sy masih muda. Nining dan  adik-adik hendra yang lainnya sudah sy anggap saudara kandung sendiri. Bagaimana tidak, kami menjadi keluarga yang bahagia. Yah kami keluarga, sy, hendra, nining, nita (adiknya hendra yang di SMU 2 Malino yang ingin kuliah di mantan kampusku), dan yayat, serta kedua orang tua Hendra menempati rumah di BTN Paropo Indah Blok J No. 17. Terngiang dengan jelas ketika sy berdua Hendra naik motor bersama menuju sekolah di jalan sunu, SMAN 17 Makassar. Pergi main bola bareng teman-teman anak Jubel, dan sy terus ngekor di belakangnya hendra. Meskipun tentunya sy memiliki dunia lain ketika masih SMA. Basket, BuluTangkis, Pingpong, Fisika, Remaja Masjid. Tapi hampir dari semua dunia Hendra, pasti selalu ada sy yang ngekor :D.

Sy pun mengingat ketika kami membentuk ‘gank’ tersendiri dari angkatan kami yang berisikan orang-orang yang lebih yang kami beri nama “Rasio” di tanggal lahir  masehi Hendra 10 Juni 2005 . Salah satunya adalah dokter idaman dari  anak-anak dokter yang masih belia-belia dan bahkan menjadi sorotan dokter-dokter residen yang belum memiliki suami. Siapa lagi kalau bukan si ‘buntala’, Faqi Nurdiansyah.

Tak terasa waktu telah berlalu dan banyak hal yang telah sy lalui tentunya. Anak-anak masih berjalan pada rel-nya dan tanpa goncangan yang besar yang melanda diri mereka masing-masing dan kini telah tersebar seperti seharusnya. Sementara sy  telah bertarung melawan ombak yang  menempa diri sy. Sy hanya bisa mengambil hikmah  bahwa mungkin Tuhan mempersiapkan diri sy mengarungi samudera yang lebih ganas lagi di dunia ini. Banyak jenis ombak yang sy lalui, sy pun bahkan harus terdampar  di pulau-pulau yang aneh dan bahkan membuat sy harus tergores hitam, bahkan menjadi hitam, dan menyisakan bekas-bekas noda-noda dalam batin sy yang siap-siap membuat sy menjadi seorang perompak jahat lagi.

Kebanyakan dari mereka (kawan-kawan) SMA sy sudah sangat menganggap sy asing. Persepsi dan dugaan banyak terbentuk di kepala mereka tentunya. Dan bahkan sy pun merasa bahwa sebagian dari mereka akan menjadi batu sandungan sy nantinya dalam hal-hal yang akan sy lakukan. Banyak  yang bertanya-tanya mengapa sy harus balik di kota ini. Mengapa harus mampir di kota Makassar dulu. Bahkan sy kadang-kadang mengatakan kepada beberapa orang tentang tenggat waktu sy di kota Daeng ini. (semoga Tuhan memperpanjang usia sy).

Seperti biasanya, ketika adzan terdengar maka sy, hendra, dan ayahnya ke Masjid untuk shalat. Namun Hendra di Bandung, sedang memperjuangkan kehidupannya. Maka sy dan Ayahnya lah yang ke Masjid untuk ibadah Shalah Maghrib. Sy pun selalu rindu untuk ibadah di tempat ini tentunya. Masjid yang hampir 2 tahun sy tempati untuk ibadah Shalah Maghrib di waktu SMA.

Bacaan imamnya kali ini sangat baik, sepertinya imamnya telah berganti dalam beberapa tahun terakhir ini. Dan pesan yang disampaikan oleh imam ini ketika shalat maghrib ini sangat baik. Kalau kata orang sini, makassar, “pangngumpu’nya bagus”.

Rakaat pertama setelah al-fatihah, sang imam membaca surat Luqman, disitu ada perkataan Luqman dan nasihat-nasihat kepada anaknya. Kalau Anda membaca surat Luqman, maka tentu Anda para muslim akan mengerti mengapa si-Luqman ini diabadikan dalam Al-Qur’an utnuk dijadikan sebagai contoh menjadi orang tua.

Kemudian Rakaat kedua, sang Imam pun membacakan surat yang sy tidak tahu, tapi kali ini pesannya adalah kisah Nabi Daud(David) yang memberikan pesan ke Nabi Sulaeman(Solomon).

Situasinya sangat menguntungkan dikarenakan banyak orang tua yang shalat di masjid ini. Yah orang tua di BTN ini sangat senang beribadah sepertinya, dan memang begitu sejak sy dulu tinggal di BTN ini. Kemudian anak-anaknya juga ada, karena ada yang setia menjadi guru ngaji untuk anak-anak kompleks itu. Sekarang si Yayat(adiknya Hendra) mungkin sudah tidak ngaji lagi, tetapi dulu yayat ngikut ngaji di Masjid itu.

Dua-dua dari pesan yang disampaikan oleh imam itu tentang pesan orang tua kepada anaknya. Pesan pertama di rakaat pertama adalah pesan yang seharusnya orang tua melakukannya kepada anak-anaknya. Yaitu pesan Luqman kepada anaknya. Kemudian pesan kedua itu adalah pesan untuk orang tua yang Khusus, yaitu pesan dari Sang Raja (Daud) kepada anak Mahkota (Sulaeman). Yang sy bisa interpretasikan jika Anda seorang scientist, maka Anda pun juga harus memberikan pesan-pesan yang baik yang berkaitan dengan anak Anda yang juga yang akan menjadi scientist. Mungkin seperti pesan Habibie kepada anak-anaknya kali ya?

Kemudian setelah shalat, maka berlanjutlah cerita di meja makan. Mengingatkan lagi cerita-cerita lama dimana sy selalu makan bersama di meja itu TT. Kemudian dipotong shalat Isya, kemudian dilanjutkan lagi cerita dengan ayahnya dan ibunya. Sy diberikan satu tugas untuk persiapan pernikahan saudara sy Hendra Winata. Yaitu nama lengkap dari Ayah kawan-kawan terdekatnya ketika kami SMA.

#nostalgia

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Islam, Tentang Saya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s