Budaya Buang Sampah

Source : http://lapmikabupatenbandung.blogspot.com/2012/10/kampus-uin-tak-punya-tong-sampah.html

Source : ini

Sy mungkin orang yang akan menegur Anda jika Anda membuang sampah sembarangan di depan mata sy. Itupun juga kalau Anda adalah teman sy, atau gak usia Anda lebih muda dibandingkan sy. Bukannya menjadi ‘sok pahlawan sampah’, tapi sy hanya berupaya mencegah aktivitas ‘vandalisme‘. Yah salah satunya ini, membuang sampah tidak pada tempatnya.

Permasalahan ini adalah permasalahan klasik dari masyarakat. Di kota Makassar ini, sering kali sy melihat pengendara mobil pribadi membuang sampah di jalanan.   “Turunin kaca mobil, kemudian membuang sampah ke jalanan!”. Sy menggerutu dalam hati sy, dan mengucapkan “emang ini jalanan lautan sampah yah? Dasar orang ‘kaya’ yang tolol  dan bejat !”.  Kalau ngelihat anak kecil dalam kendaraan pribadi membuang sampah lagi, sy menggerutu dalam hati sy dan mengucapkan “dasar orang tua tolol dan tidak bertanggung jawab ! tidak tau mendidik!! dan taunya hanya ‘cetak anak’  yang punya sikap vandalisme!!! Ibunya mana? Ibunya mana? Ibunya lagi make-up tebal sepertinya hahahaha”. Ketika lihat pengendara motor membuang sampah di jalanan. Hati sy menggerutu lagi, “Dasar pekerja tolol dan bejat !”. Kalau lihat mahasiswa membuang sampah sy menggerutu lagi , “Adou  mahasiswa tolol dan inikah cetakan 12 tahun belajar di bangku sekolah, SD, SMP, SMA. Hadou kemana sistem pendidikan ini yang tidak bisa mencetak generasi ‘tulang punggung bangsa’. Tidak usah sy sebutkan namanya dan jumlahnya berapa banyak mahasiswa yang bersekolah di Universitas bergengsi di Sulawesi Selatan ini, Universitas Hasanuddin, yang membuang sampah sembarangan, tidak pada temptnya. Kenapa harus nyindir kampus ini, ya ialah, karena yang cerdaslah yang mesti memberikan contoh terlebih dahulu, moso yang bodoh-bodoh. Malu atuh !!!

Di belakang taksi sy lihat lagi supir taksi, dengan entengnya si-supir buka kaca dan membuang puntung rokoknya. Sy dalam hati lagi tentu menggerutu lah, dasar supir ‘elit’ tolol. Perusahan taksinya ini maunya duit tanpa melakukan kegiatan kebajikan, yah dididiklah atuh supir-supirnya. Kalau sy  jadi walikota Makassar nih, sy  semprot nih si bos-bos pengusaha taksi. Kalau perlu sy  buangin sampah di depan mukanya deh !”.  Kalau lihat anak SMA, pasti menggerutu dan bergumam, hmmm mungkin dari sekolah abal-abal. Kalau dari sekolah baik-baik, pengen banget sy  gemplang tuh kepala sekolahnya. Kalau lihat supir ‘pete-pete’ buang sampah juga, sy  cuma nyengir senyum tipis dalam hati, soalnya bisa-bisa kita yang digemplang langsung sama mantan preman yang pengen jadi superhero bagi keluarganya. Monggo aja deh mas 😀 di buang aja. Tapi kalau anak lo juga buang sampah sembarangan, sy marahin tuh sekolah-sekolah yang gak ngajarin anak lo buang sampah pada tempatnya, yang tidak membudayakannya ! Kalau lihat anak kecil buang sampah,  sy kadang-kadang pengen jitak kepalanya, tapi sy tahan, berganti mengusap-usap kepalanya, dan menasehati, kalau buang sampah tuh di tempatnya. Sambil pungut sampahnya, dan bingung mau buang kemana nih sampahnya. Pengen sy marahin tuh dinas kebersihan, yang korupsi uang pengadaan tempat sampah !!! Hoi Dinas, mana tempat sampahnya???? atau gak si Ketua RT-nya ? mana Tempat sampahnya? Masa lo (pak RT) gak buat orang-orang di sekitar RT lo patungan ngumpul duit terus mengadakan tempat sampah. Kalau lihat sampah berserakan, sy kadang-kadang sy menggerutu, “hoi JIN yang mana lagi nih yang buang sampah? Sy gak lihat soalnya yang buang sampah. “. Pakai standar singapore dong !!! Moso disana bisa, di kota Makassar tidak bisa? Apa orang kota Makassar taunya ‘cetak anak’ aja yah?

Benar kata Founding Father kita, Ir. Soekarno, kalau nanti kita-kita ini pemuda-pemuda Indonesia yang akan menjadi pahlawan negara, ckckck, akan melawan sesamanya sendiri. Hmm sepertinya iyah.

Sy pengen tutup kisah tentang sampah ini dengan kisah yang lumayan membuat sy geleng-geleng kepala juga. Sy selalu mengumpulkan sampah di plastik besar, kemudian penuh, maka tentu sy harus buang ke tempat pembuangan sampah. Tapi tempat pembuangan sampah di kamar kontrakan yang sy jadikan ‘studio tempat kerja sy’, ini tak ada tempat pembuangan sampahnya. Sy bingung dimana harus membuang sampah ini tentunya. Sy nanya2 tetangga, “dimana pak? sy bisa membuang sampah sy ini yang 2 kantongan besar ini (sambil menunjukkan sampah sy 2 kantongan itu). Kemudian orang itu (tetangga sy) menunjukkan rutenya ‘belok kiri belok kanan belok belok bla bla’. Sy pun mengikuti petunjuknya, setelah tiba di tempat yang diarahkan oleh tetangga itu, sy pun melihat papan yang tidak baik, tapi tertulis pesan “JANGAN BUANG SAMPAH DISINI, TANAH INI MILIK bla bla”. Akhirnya sy pun melongo dan pulang membawa 2 kantongan sampah itu. Terus bertemu dengan tetangga lain dan bertanya, “Apa itu yang kamu bawa?”. Sy menjawab , ” 2 kantongan sampah pak, ingin buang di ‘tempat sampah’ “.

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Kegelisahan Hatiku, Tentang Saya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s