Ekonomi, Pendidikan, dan Emosi

Hmm sy tersenyum dengan kata ekonomi ini, begitu banyak orang terjebak dikarenakan kurangnya konsep ini diajarkan sejak dini. Ekonomi hal yang sangat menarik untuk diketahui, ekonomi ini juga akan bercerita tentang ideologi kita. Lihatlah bagaimana kaum Nabi Musa meninggalkan tempat ibadah mereka di hari Sabtu ketika Allah menguji kaum nabi musa dengan ikan yang melimpah dan hanya terjadi pada hari dimana mereka seharusnya beribadah. (mungkin surat Al Qasash)

Sy pun baru mengerti ketika usia semakin hari semakin menua. Termasuk belia, yaitu di usia yang 25 tahun ini, tetapi sy merasa sy sangat terlambat untuk mengerti. Ataukah sy terlalu lambat untuk mengerti. Sy kurang tahu.

Tetapi takdir hidup sy memaksa sy untuk selalu di dalam posisi dilema saat ini. Mungkin hingga orang tua sy mengerti tentang konsep ini. Ini adalah konsep hidup dan ini adalah konsep hari akhir.

Terlalu banyak orang terjebak, terlalu pendek ruang disini jika harus sy menjelaskannya. Belum lagi penelitian mengatakan secara psikologi, bahwa orang membaca lewat layar hanya scanning, dan butuh trik tertentu untuk menulis agar segmentasi orang yang membacanya dapat diperlebar.

Penderitaan panjang mengenai penjajahan pikiran dan ekonomi ini harus dihentikan. Sy harus memulai dari diri sy, kemudian ke keluarga sy, dan masyarakatku suatu hari nanti, jika diberi kesempatan.

Pendidikan adalah salah satu hal yang menentukan ekonomi. Tidak mungkin jika orang yang melalui jalur pendidikan tidak mampu menciptakan ketahanan ekonominya. Kecuali pendidikan itu berbasis pekerjaan. Dan itu harus dijemput dari atas, yaitu lapangan pekerjaan yang dihasilkan oleh para pengusaha yang cerdas dan regulasi yang tidak mencekik dan sejalan dengan ideologi bangsa itu.

Agak ironis sekarang di negara Indonesia ini. Setelah berjuang hingga pendidikan yang boleh dikatakan bergengsi di negara ini. Sy pun akhirnya sadar bahwa mengapa hal ini terjadi. Terlalu sulit ternyata untuk menyelesaikan permasalahan ini. Permasalahan ini size-nya terlalu besar. Tidak bisa diselesaikan seorang diri. Harus diselesaikan dalam organisasi yang sangat besar. Tetapi dalam sebuah gerakan yang real. Tidak bisa hanya dengan membuat gerakan menjadi pengusaha saja, jika ideologi dari pengusahanya itu tidak sejalan dengan ideologi negara, maka perlu menciptakan gerakan pengusaha yang merupakan anti dari ideologi tersebut agar terjadi keseimbangan. Agar tidak terjadi proses hierarki ekonomi yang berujung pada kriminal di kaum paling bawah. Tidak bisa juga dengan sebuah gerakan dengan sekumpulan orang yang hanya bermain di rana retoris, sementara beliau sendiri tidak dapat menghasilkan keuangan selain main jatah  seperti calo. Ini bukan hal yang mudah.

Ibu sy pernah berkeinginan agar anaknya suatu hari nanti ada yang menjadi pejabat. Terkadang sy tersenyum. Ibu tidak tahukah engkau ibu, bahwa jabatan itu adalah amanah. Sungguh seperti memasukkan kedua kaki dalam neraka.  Dikarenakan dalam sebuah kebijakan yang ada di kita itu akan menindas beberapa orang. Lalu bagaimana jika nanti yang tertindas adalah kaum-kaum lemah yang dekat dengan Tuhan? Bagaimana sy akan menjawab kepada Tuhan  tentang hamba-Nya yang tertindas oleh kebijakan itu. Kalau yang faqir (dekat dengan kekafiran), yah itu yang harus diperbaiki, namun jika memang mereka tidak tahu diri yah sepertinya memang pantas untuk tertindas. Tetapi entahlah hal ini masih buram dalam pikiran sy. Terlebih lagi sy harus resign dari ITB. Takdir hidup yang memaksa sy. Sy keluar bukan karena sy sibuk dengan pembuatan sebuah startup (industri digital), tetapi sy sibuk untuk mencari tahu jawaban kegelisahan hati sy, dan juga tarik menarik ulur dari kondisi ideologi keluarga utama yang sangat ruyam, dan kondisi sosial di keluarga besar sy yang begitu ruyam.

Tapi itu tidak membuat sy menyerah. Sy harus jalan, setidaknya konsep ekonomi ini sy sudah pahami, esensi dari pendidikan sudah sy mengerti, hanya tinggal emosi yang harus sy redakan.

Sy harus belajar mengendalikannya, sy harus meminta hak hidup sy, sy memulai dengan membuat lembaran baru dari hidup sy secara pribadi. Sy pun masih tersenyum kepada adik-adik sy, sy berharap kita bertujuh suatu hari nanti menjadi lelaki-lelaki yang akan mengerti satu sama lain, dan mengerti akan kemana arah hidup kita. Sy berharap di satu hari nanti kita bertemu dan bercerita selayaknya laki-laki.

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Ideologi, Kegelisahan Hatiku, Tentang Saya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s