Dua Bintang

Seorang anak laki-laki tinggal di rumah sahabat laki-lakinya yang piatu di sebuah kawasan nelayan dari salah satu pulau di sulawesi selatan. Sahabatnya itu merupakan anak semata wayang yang dibesarkan oleh seorang ibu tanpa suami yang telah lama wafat dikarenakan penyakit kanker paru-paru. Waktu berlalu  anak laki-laki itu tersebut tumbuh dan akhirnya menjadi remaja bersama sahabatnya. Deburan ombak dan perahu pinishi berlalu lalang di dermaga menjadi kenangan mereka sehari-hari. Terkadang dia dan sahabatnya pergi membantu nelayan yang lainnya untuk menangkap.

Di suatu senja di ujung bulan Rabiul Awal, lelaki itu pun akhirnya memutuskan untuk mengutarakan niatnya yang dia pendam kepada sahabatnya untuk merantau ke negeri orang lain. Sahabatnya hanya bisa memberikan dia dorongan semangat. Sahabatnya berharap agar suatu hari kelak agar dia dapat kembali untuk bertemu dengan dirinya lagi.

Lelaki tersebut meninggalkan sahabatnya di subuh hari menuju kota Makassar dan memulai pertama kali nasibnya menjadi seorang buruh di kota itu. Tekadnya yang kuat membuat dirinya menjadi orang kepercayaan dari sebuah perusahaan expedisi kargo ternama dari kota Singapura. Dan akhirnya dia bisa menginjakkan kaki di Singapura sebagai manager di perusahaan tersebut.

Bertahun-tahun telah dilewati oleh lelaki itu di dalam perantauannya. Lelaki itu pun telah memiliki seorang istri yang merupakan orang minang. Mereka berdua telah menetap di kota Singapura. Kemudian ketika lelaki  tersebut telah merasa bahwa sudah saatnya dia harus kembali untuk bertemu dengan sahabatnya yang dia tinggalkan itu hingga puluhan tahun lamanya.

Di sebuah senja di bulan Safar dia datang di kota itu, dan ingin bertemu dengan sahabatnya itu. Perempuan yang menjadi ibunya itu kaget ketika ternyata lelaki itu datang ke rumahnya itu adalah anak laki-laki yang merupakan sahabat anaknya dan sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Lelaki tersebut sambil melihat kamar mereka berdua menunggu kopi yang dibuatkan oleh perempuan itu. Di kamar tersebut dia melihat fotonya bersama kedua orang sahabatnya. Di meja ruang tamu ada sebuah tumpukan bundel gambar yang akan menjadi hadiah kepada sahabatnya itu. Ketika kopi telah usai, dia pun bercerita tentang pengalamannya, hingga bundel  itu dibuka, bundel itu merupakan denah rumah yang akan dia bangun untuk sahabatnya itu. Dia bertekad di dalam dirinya ketika sebelum berangkat merantau, dia ingin menghadiahkan rumah untuk sahabatnya suatu hari kelak. Sebelum usai lelaki itu bercerita, dilihatnya raut mukanya perempuan itu. Dia melihat kejanggalan, ada apa gerangan dengan raut muka perempuan itu. Dan keluarlah ucapan yang seakan-akan menghentikan waktu dari mulut perempuan itu, bahwa sahabatnya itu telah meninggal 5 tahun yang lalu ketika dia pergi bersama nelayan di kampung itu untuk mencari ikan.

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Cinta, Sastra dan Puisi, Teman. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s