Uplan Trip to Malino

Uplan Trip to Malino

Cerita ini telat untuk saya tuliskan, maklum saya orang yang tidak bisa langsung update untuk nulis blog, belum terbiasa. Padahal ketika baru saja masih melakukan perjalanan, banyak banget isi kepala saya yang ingin saya tuliskan akan tetapi belum bisa. Akhirnya banyak cerita yang terlewatkan, tetapi saya akan coba mengingat-ngingat cerita tentang ini.

Cerita ini bermula pertemuan pertama dengan kawan lama ITB di Warung Kopi di Jln. Bali Makassar, namanya teman saya  Gustaf (Elektro 06), dan  Putra (Elektro 08). Mereka berdua dahulu adalah penduduk Sunken Court, sebuah tempat di kawasan ITB yang menjadi tempat nongkrong unit-unit mahasiswa di ITB. Gustaf dan Putra tergabung  di Unit yang sama yaitu Unit KMPA  (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam) Ganesha. Sementara saya berada di Unit Kesenian Sulawesi Selatan (UKSS). Unit KMPA itu berdampingan sekretnya dengan UKSS .

Dari pertemuan pertama ini,  Rabu, jam 4 tanggal 14 Oktober di sebuah cafe yang saya lupa apa nama tempatnya. Kami cuap cuap dst. Dan akhirnya sampai pada kesimpulan untuk melakukan perjalanan. Saya bertanya ke Gustaf, ini judulnya apa nih. Kata dia “Unplan Trip!”. Jadi tidak usah ada perencanaan terlalu detil, ini itu, dst. Pokoknya kita tahunya kita akan ke Malino. Tidur dimana, akan seperti apa? Intinya datang ke Malino dan kita tidak tahu persis akan ngapain disana!

Saya sih sudah pernah ke Malino sekali, Gustaf belum pernah, Putra juga pernah.  Jadi karena gustaf ingin tahu disana seperti apa? Kita sepakat akan berangkat ke Malino hari Sabtu, tak tahu kapan berangkatnya.

Hari Jumat, pembicaraan mulai semakin intens, kita mulai mencoba merencanakan sesuatu, yaitu kita mau sewa tenda, berangkat jam 12 siang. Karena semua tidak jelas, kita kembali kepada rencana berikutnya yaitu unplan Trip.

Sabtu pun tiba, 17 Oktober 2015. Tempat kumpul sebelum berangkat dimulai di kosan Gustaf. Putra sudah datang lebih awal. Saya paling telat karena harus tukaran motor dulu dengan adik saya. Selayaknya suami  yang baik saya harus selalu memberikan penyampaian kepada istri bahwa saya pergi liburan dulu sama teman. Maklum saya lama baru jumpa dengan nih kawan. Dan ternyata dia dah hampir 2 tahun di kota ini. Dan tidak pernah bertemu.

Di kosan Gustaf kami cerita cerita lagi, tidak jelas, membuang waktu lagi, sekitar sejaman. Keluar lagi dari rencana jam 12 siang berangkat ke Malino.  Jam setengah 2 kami memutuskan mulai berangkat. Keluar dari rumah, kami mampir dulu makan di warung langganan Gustaf. Lumayan murah dan enak lah untuk makanan rumahan. Setelah itu kami makan dan cerita-cerita lagi dan memulai perjalanan.

Istri saya sempat marah karena saya tidak konsisten kalau saya akan berangkat jam 12. Maklum istri saya belum tahu bahwa perjalanan kami ini judulnya unplan Trip. Sekitar jam 3 kami baru melewati batas kota Makassar menuju Malino Kabupaten Gowa.

Di perjalanan kami mampir dulu di Bendungan Bili-bili. Bisa dilihat foto kami bertiga.

Di Bendungan Bili-Bili

Di Bendungan Bili-Bili

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan kami beberapa kali mampir. Maklum capeklah kami ini menggunakan motor. Hingga akhirnya kami tiba di kota Malino setengah 6 sore.

Kami terus berputar-putar mencoba mengenali kota Malino ini. Hingga akhirnya kami berhenti di sebuah tempat dimana tempat itu ramai, pemuda dan pemudi yang sedang menikmati Malino Mereka lagi menikmati senja yang akan berganti dengan malam dengan berfoto-foto ria. Sampai mereka menawarkan diri untuk memoto mereka, karena tukang potretnya juga mau masuk di foto itu. Ternyata dari mereka ada yang mengenali saya. Namanya Wulan, mahasiswi dari Universitas Negeri Makassar, jurusan Desain Komunikasi Visual. Dia kenal saya karena memang saya sering ke jurusan DKV UNM main-main. Kebetulan ketua Himpunannya adalah teman saya. Dan memang saya dulu ada project ingin terlibat dalam perdamaian antara 2 Fakultas yang sering tawuran di  kampus itu yaitu Fakultas Seni& Bahasa vs Fakultas Teknik.

Teman-teman dari UNM itu sudah pulang ke wisma mereka. Kami tetap di tempat itu, menikmati bulan dan bintang bersama sambil menggunakan smartphone kami mencari lagu-lagu dan chord yang bisa kami nyanyikan. Kebetulan kami membawa gitar yang senarnya kencang banget, sampai jari tersiksa mencetnya. Lantunan lagu terlewati dengan suara fals, dan permainan gitar ala kadarnya menjadi  hiburan kami selama 3 jam. Setelah itu perut mulai kelaparan. kami memutuskan kembali ke tempat keramaian mencari makanan.

Setelah makan kami mencari penginapan yang murah untuk kami tempati. Kami ke Wisma Bahagia, kami mengorek uang kami total 150ribu untuk semalam. Sempat si penjaga wisma menawarkan 250ribu. Enak aja, kemahalanlah  menurut kami. Akhirnya harga disepakati. Kami bermalam di wisma itu.

Pagi harinya setelah subuh kami masih terus tidur. Padahal rencananya mau joging. Eh tidur lagi sampai jam 10 pagi. Setelah itu kami pergi jogging, entah kemana arahnya yang penting jogging. Tau-tau kami terlalu jauh jogging dan kepikiran kalau kembali bisa kejauhan ini. Kami memutuskan untuk bypass saja tapi melewati lembah . Turun bukit naik bukit. Yah malah kecapaian, ngos-ngos. Betis sakit, paha sakit, maklum gak pernah lagi olahraga sayanya.

Kami hampir pulang dengan keadaan seperti itu saja. Akan tetapi , saya dan putra bilang, masa ke Malino, gini-gini aja. Gak kemana-mana gitu? Masa datang hanya untuk nginap di wisma? Ah  kurang seru ini. Setelah browsing lokasi-lokasi wisata di Malino, kami sepakat untuk pergi ke Air Terjun Takapala Malino.

Air terjun Takapala Malino

Air terjun Takapala Malino

Sampai disana, akhirnya perjalanan ke Malino ini terasa sesuatu lah, karena tidak asal pergi doang nikmati dinginnya Malino dan Wismanya. Saya mengajak Gustaf dan Putra untuk berenang, tetapi mereka tidak ingin berenang. Saya memutuskan untuk berenang, tetapi ternyata saya malah kewalahan dan fisik saya jadi lemah dikarenakan air terjunnya suhunya sangat dingin. Sampai-sampai saya harus muntah di perjalanan pulang. Mungkin juga karena belum makan siang kali yah waktu itu.

Setelah dari permandian kami pulang menuju kota Makassar, kami juga sudah sepakat untuk berombongan dengan teman-teman dari UNM untuk pulang ke kota Makassar. Namun beberapa kilo lagi sebelum kota Makassar, kami bertiga, memutuskan untuk mampir di tengah sawah untuk menikmati sunset. Di tengah rumah-rumahan sawah kami bercerita. Ah bentar lagi kita kembali ke kerjaan masing-masing nih. Putra kerja sebagai pegawai Telkom penempatan di kota Makassar, Gustaf kerja sebagai Asisten  Manager di Cheil Worldwide, anak perusahaan Samsung, dan saya seorang freelance developer web.

Digowa menikmati alam ditengah sawah. #senja

Digowa menikmati alam ditengah sawah. #senja

Hampir sampai jam 8 kami disana, kemudian kami memutuskan untuk terus ke kota. Tapi sebelum itu kami makan dulu di warung makan Wong Solo di Jalan  Alauddin. Disana lumayanlah menguras duit Gustaf untuk traktir pesanan saya hihi.

Kalau cerita ini kurang seru. Maklum saya belum terlalu bagus dalam bercerita dalam bentuk tulisan. Hihi..

 

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Teman, Tentang Saya, Traveling. Bookmark the permalink.

2 Responses to Uplan Trip to Malino

  1. stafarda says:

    Hahaha! Mantaaapp…!!! Tapi terlalu banyak kisah yg ditutup tutupi neh… Wkwkwk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s