Masyarakat Makasar dalam berlalu Lintas.

Yah kita sering melihat lampu lalu lintas di depan mata kita.

Hari Senin, kemarin , 29 Februari 2016, kita sudah melihat pak Danny Pomanto mengatur pengendara motor dan mobil di seputaran Jembatan Tello yang mana merupakan salah satu titik paling macet  di kota Makassar ini (baca: http://www.rakyatku.com). Jembatan Tello  yang katanya mandek pengerjaannya kemudian kontraktornya juga  dikenakan sanksi sebesar IDR 700 juta, dan juga uang pencairannya masih ada 2 Milyar yang tidak akan dicairkan lagi kepada kontraktornya. (baca: www.rakyatku.com).

Maaf sy tidak akan bercerita mengenai batalnya project impian kota Makassar itu. Tetapi sy akan bercerita uneg-uneg saya tentang Lampu Lalu Lintas di kota ini, dan juga cara masyarakat kota Makassar dalam menyikapi Lampu Lalu Lintas ini.

Sy kembali ke kota Makassar ini sekitar 4 tahun yang lalu di tahun 2011. Maklum sy adalah siswa SMA di kota ini dari tahun 2003 sampai 2006. Sebelum akhirnya kuliah di perguruan tinggi negeri  di kota Bandung. Impian sy dari dahulu kala sejak kuliah kota  Bandung adalah kembali ke kota yang menjadi tumpuan negara di Indonesia bagian timur ini.  Kota yang menjadi tempat pemikiran  berkembang, budaya saling berakultrasi, dan ekonomi berlangsung. Sangat aneh bagi saya pertama kali melihat bagaimana masyarakat Makassar dalam berkendara di kota ini. Perlu digaris bawahi kejadian ini mungkin juga terjadi di kota-kota besar yang ada di negara Indonesia kita tercinta ini. Berikut poin2 yang sy rangkum bagaimana masyarakat Makassar dalam berlalu lintas.

  1. Tidak sabaran dalam menunggu lampu merah berganti menjadi lampu hijau begitu pun sebaliknya. Lampu Lalu lintas di kota ini banyak yang dilengkapi dengan counter waktu mundur untuk mengetahui kapan lampu akan berubah dari hijau menuju merah dan merah menuju hijau. Jika kondisi lampu hijau dan menuju merah, mereka tidak segan-segan untuk mencuri waktu sebanyak 3-5 detik setelah lampu hijau berubah menjadi merah. Dengan kata lain telah mengambil hak pengendara di jalur lain yang lampu lalu lintasnya telah berubah menjadi merah. Begitupun juga ketika lampu merah menuju lampu hijau. Mereka pun banyak yang tidak segan-segan mencuri waktu 3-5 detik sebelum lampu merah berganti hijau. Dengan kata lain juga mengambil hak pengendara di jalur lain yang lampu lalu lintasnya masih hijau.
  2. Kendaraan yang berhenti di depan lalu lintas dan melewati Zebra Cross dengan kata lain mengambil hak pejalan kaki. Dan yang paling aneh di antara semuanya itu adalah mereka tidak melihat lampu lalu lintas di atas mereka ataukah dibelakang mereka ( ya sudah jelas lah tidak akan dilihat karena lampu lalu lintasnya di lewati). Yang mereka lebih perhatikan yaitu bagaimana pengendara di jalur yang lain. Apakah sudah berhenti atau tidak? Jika sudah berhenti berarti itu adalah giliran mereka. Nice logic menurut sy. Kadang  guyonan sy kepada teman-teman saya di kota ini, rata-rata dari kita orang Makassar jago,  kita melihat lampu lalu lintas tetangga kita dibandingkan lampu lintas di jalur kita sendiri. Lalu lah masalahnya dimana? Kan logicnya sudah benar, jika lampu lalu lintas seberang berhenti berarti itu giliran kita. Masalahnya adalah, lampu lalu lintasnya  belum berubah warna langsung aja tancap. Ups kadang sy pun juga mengambil hak pejalan kaki ketika macet dengan melewati trototar L .
  3. Ketika malam-malam dimana hampir sudah sangat jarang kendaraan lalu lalang. Lampu lalu lintas masih merah, eh dilewati saja seperti lampu hijau tanpa peduli itu adalah lampu merah. Mungkin mereka berpikir “sudah tidak ada polisi yang jaga”. “Sudah tidak ada kendaraan yang lewat”.
  4. Menyeberang Jalur. Jalur yang seharusnya bukan merupakan jalur mereka, malah ditempati atau dilewati. Paling sering juga di lampu lalu lintas. Sehingga kadang-kadang menyebabkan kendaraan dari arah seberang tidak bisa melewati jalur mereka karena terhalang oleh pengendara dari jalur sebelah.
  5. Tidak menyalakan lampu weser (kedip2 warna kuning) sebelum pindah jalur. Ataukah ingin belok.
  6. Buka kaca mobil, kemudian buang sampah keluar, seakan-akan jalan raya adalah tempat sampah.

Hal-hal ini lah yang sering sy perhatikan di kota ini mengenai lampu lalu lintas. Dan hampir masalah seperti ini yang akan kita dapatkan setiap hari di kota Makassar jika berlalu lintas. Akhirnya yang kena adalah warga kota Makassar sendiri termasuk saya tentunya. Akan terjebat macet yang berkepanjangan.

Okelah mengenai kasus pengerjaan yang mandek di Jembatan Tello beberapa bulan terakhir ini yang katanya disebabkan project jembatan Tello. Akan tetapi coba kita melirik kejadian di simpang Jalan dekat dengan SMPN 8 Makassar.

Pada hari  Senin 29 Februari 2016 malam, sy akhirnya memarkirkan motor sy di depan Fotocopy dekat Lampu Lalu lintas dan ikut menjadi “polisi lalu lintas dadakan” di lampu lalu lintas itu. Mereka semua berhenti di tengah lampu lalu lintas itu. Tak ada yang mau mengalah. Entah siapa yang memulai kesalahan pertama kali di titik itu, yang sy duga adalah pengendara yang tetap berjalan padahal lampu merah sudah berada di jalurnya.

Sy tidak sendiri, sudah ada 1 orang warga lebih awal menjadi “polisi lalu lintas dadakan” di tempat itu. Dia adalah warga biasa yang sy pikir bukan seorang wiraswasta, tetapi malah seperti  seorang buruh, terlihat dari penampilannya. Sy pun langsung menjadikan diri saya sebagai bawahan dia  untuk mengatur lampu lalu lintas itu. Kami saling bekerja sama, mungkin kurang lebih hampir  30-45 menit kami menyelesaikan masalah itu sampai akhirnya kami membuat pengendara mengikuti kembali lampu lalu lintas dimana merah untuk berhenti dan hijau untuk berjalan.

Disini sebenarnya tidak ingin bercerita tentang  apa yang sy lakukan di kota ini pada malam itu. Akan tetapi sy ingin mengajak teman-teman saya yang ada di kota Makassar ini yang terhubung lewat facebook saya ini untuk sama-sama mengajarkan diri kita, keluarga kita, dan teman-teman kita untuk tertib lalu lintas. Yang paling utama di antara semuanya adalah di titik lampu lalu lintas. Okelah mengenai helm, mungkin masih banyak di antara kita yang tidak mengenakannya. Tapi esensi helm itu kan lebih ke arah diri sendiri. Ketika kita kecelakaan dan tidak sedang menggunakan helm maka kemungkinan besar kepala kita bisa kena efeknya. Dan sy sudah merasakan mamfaat dari helm ini ketika kecelakaan, kepala saya terselamatkan. Alhamdulillah. Tapi yang paling utama adalah tidak melakukan kejahatan berlalu lintas saat berada  di lampu lalu lintas. Karena itu akan menyebabkan macetnya arus lalu lintas yang berujung pada kerugian kita bersama di kota ini.

Untuk saat ini yang bisa kita  lakukan sebisa mungkin ketika kita berada di lampu lalu lintas adalah berhenti ketika lampu merah itu sudah menyala. Meskipun beberapa pengendara di depan kita sudah melanggarnya. Akan tetapi kita  berhenti dan tidak ikut-ikutan! Kelakukan ini akan mengakibatkan orang-orang yang berada di belakang kita juga berhenti. Entah dia orang yang patuh ataukah tidak. Karena jika kita ditabrak sama mereka. Tentu mereka sudah bersalah 2 kali. Intinya jangan turut menjadi bagian dari kesalahan ini.
Kadang saya berpikir, apakah mereka yang melanggar ini tidak mempunyai SIM? Ataukah mereka mempunyai SIM tetapi lupa akan peraturan-peraturan lalu lintas. Padahal mereka seharusnya memahami peraturan tersebut sebagai persyaratan untuk memiliki SIM itu. Ataukah warga kita sudah tidak tahu bahwa merah itu berhenti, hijau itu berjalan, dan kuning itu hati-hati. Sering sih sy mendengar bagaimana mendapatkan SIM di negara ini. Cukup bayar sekian maka kita sudah lolos mendapatkan SIM tersebut. Dan anehnya lagi kita juga masih lebih sering menjadi orang yang suka “bayar ditempat” untuk menyelesaikan pelanggaran lalu lintas kita.

Sampai saat ini saya terus belajar bersama teman-teman sy yang lebih patuh lagi dalam berlalu lintas sepeti Khaerul Fadly dan Sidik Permana di kota ini. Saya bangga menjadi warga kota Makassar, sy cinta kota Makassar ini dan sy bahagia menjaga kota ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? seperti pepatah yang kita baca  di Kota Maros salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan.

Makassar, Selasa 01 Maret 2016

 

 

 

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Budaya, Daily Life, Kegelisahan Hatiku, Momen Unik, Mungkin Anda Tahu, Opini, Tentang Saya, Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s