Bambangnya ‘Alo’

Sudah lama saya melihat video tentang Bambangnya Alo, bisa dilihat di url ini via youtube ,buka  (https://www.youtube.com/watch?v=kRLqBa0f16Q). Kemudian menjadi viral di anak-anak kota Makassar.

Kemudian ada yang akhirnya membuat video tentang ini, banyak yang membuatnya dan mengikutinya.  Secara logika gadis yang bersama ‘doi’nya itu merupakan trendsetter yang mempengaruhi publik remaja di Makassar saat ini. Namun pertanyaan saya, apakah mereka melakukan itu dikarenakan respect terhadap si gadis ‘bambang Alo’ ini? Ataukah dia ingin menyebarkan sebuah kekonyolan atau sedang ingin membuat narasi sarkas kepada  gadis ‘bambang Alo’ ini? Dimana tujuan sarkas ini adalah mencela kekonyolan gadis ‘bambang Alo’ ini.

“Bambangnya Alo” frasa yang seharusnya merujuk kepada “bambangnya Allo” adalah bahasa di kota Makassar dimana terdiri dari 2 kata dasar Makasar yaitu “bambang” dalam bahasa Indonesia artinya panas, dan “Allo” dalam bahasa Indonesia adalah “Matahari atau siang”. Si gadis ini malah berucap “bambangnya Alo” bukan “bambangnya Allo”. Dimana kehilangan satu  huruf “l” dalam kata “Allo”.

Kejadian dimana mengucap seperti itu di kota Makassar dikenal  dengan “okkots”. Dimana itu adalah sebuah kejadian yang terjadi karena pengaruh bahasa Indonesia digabungkan dengan dialek bahasa Makassar atau bahasa Makassar itu sendiri. Singkatnya efek dari pencampuran  bahasa Indonesia dan bahasa Makassar  yang berujung pada salahnya pengucapan satu kata atau lebih. Dan menjadi lucu di kalangan beberapa orang yang tidak terbiasa “okkots”.

Trendsetter ‘bambang Alo’ dilakukan untuk mendapatkan sebuah kepuasan. Itu yang ada dalam pikiran saya. Namun ada yang aneh dalam trendsetter ini. Terkesan  saya melihat trendsetter ‘bambangnya Alo’ ini terjadi karena pemuda-pemudi Makassar ini merasa senang dengan okkots yang dilakukan gadis “bambang Alo’ ini. Mereka senang dengan kebodohan dan kekonyolan gadis ini ‘bambangnya Alo”dan merasa puas atas bentuk narasi sarkas mereka terhadap gadis ini.

Aneh jika okkots yang sengaja dilakukan oleh orang-orang yang secara sadar lakukan untuk meraih simpati pemuda. Contoh  frasa ‘terbait meman” yang itu merujuk kepada frasa “Terbaik memang”. Trensetter ‘terbait memang’ tidak dilakukan dalam bentuk narasi sarkas, tapi sebuah bentuk trendsetter untuk menghargai pembuat frasa itu.

Untuk gadis ‘bambangnya Alo’ ini sy memberikan apresiasi menurut sy dan sy anggap sebuah keberhasilan di satu sisi karena menjadi trendsetter di pemuda-pemuda Makassar. Dan sy tidak ingin membuat narasi sarkas kepada gadis ‘bambangnya Alo’ ini yang membuat trendsetter ini. Malah sy ingin membuat narasi sarkas kepada gadis-gadis atau pemudi-pemudi yang melakukannya karena narasi sarkas kepada gadis ini. Kalian selama ini telah memberikan apa kepada kota Makassar? Kalau gadis ‘bambangnya Alo’ ini sudah memberikan sesuatu yaitu frasa ‘bambangnya Alo”. Hehe 🙂

Advertisements

About Fachrie Lantera

Seseorang dapat dinilai dari tulisannya. Saya seorang yang senang membaca tulisan seseorang dan mengenalnya lewat tulisannya.
This entry was posted in Daily Life, Ideologi, Ilmu Komunikasi, Kegelisahan Hatiku, Momen Unik, Mungkin Anda Tahu, Opini, Psichology, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s