Gubuk Rindu

Pilu sendu merindu
Tentang saudara nan jauh disana
Tak pernah kah kamu sadar bahwa engkau adalah saudaraku bukan orang lain
Cinta dan rindu kini menjadi benci karena tak ada kecocokan disebabkan karena dunia yang jauh disana pula

Di Makam leluhur kita, kita bertemu tentang cinta yang terlupakan
Karena kini kita harus berpisah oleh orang-orang sekeliling kita yang masing-masing yang menginginkan kita beradu mulut tentang kebenaran yang kita yakini yang harus kita koreksi bersama
Mereka tak sedikitpun peduli kepada diriku, bahkan dirimu pun jua ketika sebenarnya kamu sedang tidak berada pada posisi itu
Merekalah yang paling paling pertama menjauhi dirimu sekalipun dia tahu bahwa kita adalah keluarga mereka pula
Mereka tak ingin kita akur, mereka hanya ingin keluarga mereka akur

Makassar, Jumat 9 Sya’ban 1438 H/05-05-2017 M

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bambangnya ‘Alo’

Sudah lama saya melihat video tentang Bambangnya Alo, bisa dilihat di url ini via youtube ,buka  (https://www.youtube.com/watch?v=kRLqBa0f16Q). Kemudian menjadi viral di anak-anak kota Makassar.

Kemudian ada yang akhirnya membuat video tentang ini, banyak yang membuatnya dan mengikutinya.  Secara logika gadis yang bersama ‘doi’nya itu merupakan trendsetter yang mempengaruhi publik remaja di Makassar saat ini. Namun pertanyaan saya, apakah mereka melakukan itu dikarenakan respect terhadap si gadis ‘bambang Alo’ ini? Ataukah dia ingin menyebarkan sebuah kekonyolan atau sedang ingin membuat narasi sarkas kepada  gadis ‘bambang Alo’ ini? Dimana tujuan sarkas ini adalah mencela kekonyolan gadis ‘bambang Alo’ ini.

“Bambangnya Alo” frasa yang seharusnya merujuk kepada “bambangnya Allo” adalah bahasa di kota Makassar dimana terdiri dari 2 kata dasar Makasar yaitu “bambang” dalam bahasa Indonesia artinya panas, dan “Allo” dalam bahasa Indonesia adalah “Matahari atau siang”. Si gadis ini malah berucap “bambangnya Alo” bukan “bambangnya Allo”. Dimana kehilangan satu  huruf “l” dalam kata “Allo”.

Kejadian dimana mengucap seperti itu di kota Makassar dikenal  dengan “okkots”. Dimana itu adalah sebuah kejadian yang terjadi karena pengaruh bahasa Indonesia digabungkan dengan dialek bahasa Makassar atau bahasa Makassar itu sendiri. Singkatnya efek dari pencampuran  bahasa Indonesia dan bahasa Makassar  yang berujung pada salahnya pengucapan satu kata atau lebih. Dan menjadi lucu di kalangan beberapa orang yang tidak terbiasa “okkots”.

Trendsetter ‘bambang Alo’ dilakukan untuk mendapatkan sebuah kepuasan. Itu yang ada dalam pikiran saya. Namun ada yang aneh dalam trendsetter ini. Terkesan  saya melihat trendsetter ‘bambangnya Alo’ ini terjadi karena pemuda-pemudi Makassar ini merasa senang dengan okkots yang dilakukan gadis “bambang Alo’ ini. Mereka senang dengan kebodohan dan kekonyolan gadis ini ‘bambangnya Alo”dan merasa puas atas bentuk narasi sarkas mereka terhadap gadis ini.

Aneh jika okkots yang sengaja dilakukan oleh orang-orang yang secara sadar lakukan untuk meraih simpati pemuda. Contoh  frasa ‘terbait meman” yang itu merujuk kepada frasa “Terbaik memang”. Trensetter ‘terbait memang’ tidak dilakukan dalam bentuk narasi sarkas, tapi sebuah bentuk trendsetter untuk menghargai pembuat frasa itu.

Untuk gadis ‘bambangnya Alo’ ini sy memberikan apresiasi menurut sy dan sy anggap sebuah keberhasilan di satu sisi karena menjadi trendsetter di pemuda-pemuda Makassar. Dan sy tidak ingin membuat narasi sarkas kepada gadis ‘bambangnya Alo’ ini yang membuat trendsetter ini. Malah sy ingin membuat narasi sarkas kepada gadis-gadis atau pemudi-pemudi yang melakukannya karena narasi sarkas kepada gadis ini. Kalian selama ini telah memberikan apa kepada kota Makassar? Kalau gadis ‘bambangnya Alo’ ini sudah memberikan sesuatu yaitu frasa ‘bambangnya Alo”. Hehe 🙂

Posted in Daily Life, Ideologi, Ilmu Komunikasi, Kegelisahan Hatiku, Momen Unik, Mungkin Anda Tahu, Opini, Psichology, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Om Telolet Om

Dunia sekarang ini dihebohkan dengan term “Om TELOLET Om”, dari anak-anak Indonesia yang ada di Jawa yang gemar sekali mengincar bunyi klakson dengan berteriak “Om telolet Om” kepada driver bus antar kota ternyata memiliki kebahagiaan tersendiri dalam pandangan beberapa pemuda  yang ada di Indonesia.

Entah sudah berapa tulisan di media online sy baca mengenai “Om telolet Om” dan juga video-video di youtube yang sy perhatikan. Akan tetapi jika sy melihat proses “Om telolet Om” ini secara sepintas sy bisa gambarkan bahwa pemuda Indonesia mengcapture, memvideokan kebahagian yang ada pada mereka,  anak-anak kecil dari Indonesia yang meminta hiburan kepada driver bus antar kota. Mungkin mereka merasa bahwa kebahagiaan anak-anak Indonesia itu perlu disebarkan kepada orang lain. Bisa jadi juga dikarenakan mereka merasa rindu untuk bahagia seperti anak-anak kecil itu. Sebuah hal yang aneh dalam dunia anak-anak dimana meminta sesuatu yang seperti itu, hanya sebuah klakson. Sampai rela menunggu dan berteriak “Om telolet Om”. Kemudian pemuda-pemuda yang  menginginkan kebahagian yang sangat sederhana mereka juga ingin mendapatkan sensasi kebahagiaan dari hal yang simple itu, ada yang kocak dengan membuat video “Om Telolet Om” dengan pesawat.

Akhirnya menjadi hiburan tersendiri di netizen Indonesia tersebar di twitter dan Facebook dan media sosial yang ada. Dan menjadi trend diikuti oleh banyak orang.

Tak cukup disitu ternyata kebahagian yang sederhana itu , kebahagiaan “Om telolet Om” ini sebelum menjadi seramai seperti sekarang ini, salah seorang perempuan cantik di Jepang juga mengvideokan  Om Telolet Om yang beredar juga di netizen. Meskipun ada yang mengatakan itu adalah editan dan bukan karena masalah “om telolet om”. Kemudian diikuti oleh DJ international lainnya. Ada yang bahkan membuat video ini juga dalam rangka mentransferkan kebahagian universal ini yang berasal dari anak-anak Indonesia yang ada di Java sana.

Kemudian dengan sedikit inovasi muncul lah meme baru lagi dan seterusnya menjadi bahan pembicaraan dan setidaknya di kepala netizen tahu sesuatu yaitu “om telolet om”.

Beberapa bulan yang lalu di timeline saya juga sebelum mendunia “om telolet om”, seorang dosen di Bandung menjelaskan tentang kata “telolet” adalah palindrom. Bagaimana menjelaskan nya secara definisi, intinya, hurut t itu berpasang-pasangan. “T” di depan berpasangan dengan “T” di belakang, E di yang kedua juga berpasangan dengan E di belakang dst.  Kata itu atau frasa itu bisa juga dibaca dari belakang. Coba saja baca “telolet” dari belakang pasti sama.

Nah bagaimana dengan di Makassar, sementara di Makassar, ada teman sy yang mau pergi ke Terminal Daya untuk mencari bunyi  “Traddidiiii”. Panggil “Om Traddidiiii om”.

Posted in Budaya, Cinta, Daily Life, Momen Unik, Uncategorized | Leave a comment

#1000BungaMasambaUntukAndiDjemma

Jadi sekarang ini sy sangat sibuk untuk membuat gerakan mengingat pahlawan Nasional. Karena sy lahir dari tanah Luwu, maka sy buat dulu untuk mengkhususkan seorang Tokoh dari Tanah Luwu dulu, kebetulan orang yang akan sy branding adalah pahlawan Nasional.
andidjemma

Kegiatan ini cukup menguras semuanya, waktu, uang, dan tenaga. Kurang lebih sudah seperti pahlawan lah, mencoba berbakti kepada Nusa dan Bangsa ini. Ckckckck.

Terlepas dari banyaknya intrik permasalahan untuk beliau, karena hingga saat ini di kota tempat di makamkan beliau tidak ada nama jalannya. Padahal SK pengangkatan bahwa dia adalah pahlawan nasional jauh lebih awal dari mertuanya sendiri yaitu Andi Mappanyukki.

 

#Semangat

see http://www.1000BungaMasamba.id

Posted in Curhat, Ideologi, Ilmu Komunikasi, Mungkin Anda Tahu | Leave a comment

Selamat Jalan Paman

7 November 2013 (3 Muharram 1435 H ) sekitar 2,5 tahun lalu kakek sy meninggal Andi Muhammad Sajeri Opu Dg. Massita meninggalkan  kami  semua sekeluarga. Hari jumat kemarin, 25 Maret 2016 (17 Jumadil Akhir 1437 ) sepupu saya sekarang ini harus berkabung. Ayah dari sepupu saya telah wafat lagi. Ayah dari sepupu saya ini juga merupakan keluarga karena pernikahan ayah dari sepupu ini adalah pernikahan rumpun keluarga juga. Ibu dari sepupu saya ini adalah saudara dari ibu saya (Ibu saya bernama Andi Misrukiah Opu Dg. Manyala).

Paman saya ini adalah paman yang lucu menurut saya. Lumayan bisa diajak bercanda dan juga beliau sangat sabar. Sy masih ingat ketika sy memijat-mijat badannya ketika badannya kaku disebabkan penyakit stroke mulai mendekati tubuhnya. Di awal-awal perjumpaan saya lagi, beliau belum terlalu ingin beribadah selayaknya muslim seperti pada umumnya. Akan tetapi di 2 tahun terakhir ini saya menemukan beliau dalam keadaan seperti itu. Bagaimana di setiap azan yang terkumandang di Masjid Baitul Hakim dekat rumah “tinggi” beliau bergegas ke masjid itu. Saya merasakan sisi religius mulai masuk ke dalam dada pria  yang dulunya dikenal sebagai  sebagai pemuda cakep yang mempersunting tante saya. Yah biasa lah kita mendengarkan orang-orang yang sudah bau liang lahat mungkin akan mulai mengingat kehidupan setelah mati sehingga mereka mulai mempersiapkan dengan bersifat religous. Yah beruntunglah orang yang masih ingat akan hal itu. Karena ada orang yang di saat tua nya pun tidak dapat bersifat religous. Meskipun di saat-saat akhirnya. Akan tetapi itulah yang utama. Di kehidupan akhir yang baik. Beliau akhirnya meninggal di hari Jumat. Kalian tahu bagi yang muslim, hari jumat adalah hari terindah buat mereka yang meninggal di hari itu. Para kaum kristiani pun mengagungkan hari itu juga.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur. (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani.

Yah keluarga besar saya dari sisi ibu saya telah berkabung di hari ini. Adik-adik saya  telah pulang ke kampung halaman. Adik-adik sepupu saya pun telah pulang, termasuk kedua anaknya yang sementara menjalani proses kuliah di kota Makassar ini. Ingin sy pulang juga ke sana, akan tetapi ada sesuatu hal yang membuat saya tidak bisa pulang untuk saat ini. Akan tetapi akan ku kunjungi makam nya suatu hari nanti ketika saya pulang ke kampung halaman saya.

Berbahagialah disana paman. Berbahagialah engkau, dan sekali lagi berbahagialah engkau karena engkau wafat di hari Jumat, dimana hari itu merupakan hari yang kudambakan juga suatu hari nanti di ujung akhir hidup saya. Berdoa lah engkau bisa bertemu dengan mertuamu sekaligus paman kamu juga disana.

Untuk saudara sepupu ku tercinta Andi Feri, Andi  Vera, Andi Fika, Andi Nada, Andi Viki yang telah ditinggalkan
Makassar, 26 Maret 2016.

Posted in Keluarga | Leave a comment

Respect

Apa itu respect ?

Yah respect mungkin ditranslate dalam bahasa Indonesia, yaitu menghargai.

Respect atau menghargai manusia dalam pandangan saya itu harus adil. Melihat manusia tidak boleh karena apa-apa yang melekat pada dirinya yang terlihat secara kasat mata saja. Boleh jadi Anda sedang respect terhadap seorang yang bermobil tetapi sebenarnya uangnya dari korupsi yang dikumpulkan ayahnya di jabatan-jabatannya di pemerintahan, ataukah hasil suap menyuap dalam Bisnis to Government agar project-project itu berjalan di perusahaan yang dia milikinya. Ataukah dengan cara yang lain dan sebagainya.

Dalam carut marutnya hidup sekarang ini. Dimana ideologi dan pemikiran tersebar dimana-mana. Kita tentu harus punya prinsip dalam hidup ini. Prinsip itulah yang menentukan bagaimana Anda merespon stimulus yang Anda pahami di dunia ini.

Respect itu seharusnya adil.
Mengapa kita harus belajar respect dengan adil? Sy bisa membuat sebuah cerita seperti ini. Anda memiliki dua orang tetangga. Tetangga yang satu Anda tahu memiliki mobil, rumah yang mewah dan tetangga yang kedua adalah seorang yang Anda tahu memiliki banyak uang. Anda begitu bersemangat bercerita dengan dia, seperti menjilat dan seterusnya. Tetapi beda yah kalau ingin belajar dengan mereka. Kemudian ke tetangga berikutnya, hanya tetangga sederhana hidupnya. Sehingga kita kadang melihat rendah dan tidak begitu respect. Kemudian di suatu hari anak Anda sedang sakit dan Anda membutuhkan uang untuk pengobatan anak Anda. Kemudian Anda membutuhkan uang lalu Anda mengunjungi tetangga Anda yang kaya itu. Namun pada kondisi itu si tetangga kaya itu juga sedang butuh-butuhnya uang, dan biasanya orang-orang yang sudah kaya, tentu akan bilang, ” maaf dana sy sedang terpakai untuk ini dan itu”, dan itu mereka tidak bohong. Masalah yang Anda hadapi ini terdengar oleh tetangga yang tidak begitu Anda hargai bahkan di benak Anda selama bertahun-tahun pun tidak ada untuk menghargai mereka, tiba-tiba datang karena alasan kemanusiaan untuk membantu Anda dengan uang cadangan ekonomi mereka untuk membantu Anda, maka tentu sy rasa itu tamparan hebat untuk Anda bagaimana Anda respect terhadap seseorang.

Bagaimana Anda dalam ‘respect’ terhadap seseorang, begitu pula rekontruksi integritas di dalam diri Anda sendiri. Pada dasarnya jika kita melepas semua hal yang melekat di dalam diri kita, maka yang tersisa hanyalah kita sebagai makhluk dan Tuhan dalam rekonstruksi pemikiran kita sebagai hal yang luar biasa dan berkuasa penuh terhadap kita sebagai makhluk. Sehingga kita akan menghargai manusia dalam posisinya yang adil karena kita melihat posisi kita sama, hanya sebagai makhluk Tuhan. Bagi yang memilih bertuhan akan merekonstruksi seperti itu. Tetapi bagi yang tidak bertuhan beberapa di antara mereka memilih untuk bergerak sesuka hati mereka. Dan itu adalah sah-sah saja.

Terkadang ada orang membantu kita juga karena ingin menanam budi terhadap kita. Tetapi tolong dibedakan hal ini biasanya tidak terlihat. Urusan hati itu urusan Tuhan. Niat yang suci dan tulus itu tingkatan tertinggi dari diri seorang manusia, dan hanya Tuhan yang Maha Kuasa lah yang tahu akan isi hati dari seorang manusia. Meskipun motif tentu dapat kita perkecil kemungkinannya dengan deduksi logika yang kuat. Dan sy menyarankan terlebih untuk diri saya sendiri agar membantu karena Tuhan Yang Maha Kuasa dan pandai-pandai lah menentukan di diri Anda mana yang Anda niatkan karena Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di manusia sulawesi, tidak mengenal nama terima kasih. Mereka akan berjuang membalas budi. Mungkin dalam pandangan mereka bahwa bukan ukuran dari seorang manusia jika tidak tahu dalam membalas budi. Jadi jangan salahkan jika Arung Palakka sebagai manusia sulawesi dalam hal perlawanan ke Sultan Hasanuddin ( Raja di Kerajaan Gowa-Tallo) di waktu itu, harus membalas budi ke Belanda menjadi panglima perang di beberapa pertempuran Belanda di Nusantara ini yang berujung sulitnya nama ini tembus menjadi pahlawan Nusantara. Tentu sy tidak bicara mengenai benar dan salah disini. Ini adalah masalah perspektif. Dan sy tentu punya perspektif dan penilaian tersendiri. Politik tanam budi di tanah sulawesi masih saja berlangsung. Namun bedanya, politik tanam budi ini kadang berlanjut dalam tingkatan yang lebih kompleks. Menarik untuk diteliti dan ditelaah tentunya.

Cerita subuh dikarenakan lapar di pagi hari grin emotikon
Terima kasih rendangnya sahabatku dari Minang, Muhammad Ihsan Piliang

Makassar , 12 Maret 2016 , 5:44am

Posted in Ideologi, Kegelisahan Hatiku | Leave a comment

Masyarakat Makasar dalam berlalu Lintas.

Yah kita sering melihat lampu lalu lintas di depan mata kita.

Hari Senin, kemarin , 29 Februari 2016, kita sudah melihat pak Danny Pomanto mengatur pengendara motor dan mobil di seputaran Jembatan Tello yang mana merupakan salah satu titik paling macet  di kota Makassar ini (baca: http://www.rakyatku.com). Jembatan Tello  yang katanya mandek pengerjaannya kemudian kontraktornya juga  dikenakan sanksi sebesar IDR 700 juta, dan juga uang pencairannya masih ada 2 Milyar yang tidak akan dicairkan lagi kepada kontraktornya. (baca: www.rakyatku.com).

Maaf sy tidak akan bercerita mengenai batalnya project impian kota Makassar itu. Tetapi sy akan bercerita uneg-uneg saya tentang Lampu Lalu Lintas di kota ini, dan juga cara masyarakat kota Makassar dalam menyikapi Lampu Lalu Lintas ini.

Sy kembali ke kota Makassar ini sekitar 4 tahun yang lalu di tahun 2011. Maklum sy adalah siswa SMA di kota ini dari tahun 2003 sampai 2006. Sebelum akhirnya kuliah di perguruan tinggi negeri  di kota Bandung. Impian sy dari dahulu kala sejak kuliah kota  Bandung adalah kembali ke kota yang menjadi tumpuan negara di Indonesia bagian timur ini.  Kota yang menjadi tempat pemikiran  berkembang, budaya saling berakultrasi, dan ekonomi berlangsung. Sangat aneh bagi saya pertama kali melihat bagaimana masyarakat Makassar dalam berkendara di kota ini. Perlu digaris bawahi kejadian ini mungkin juga terjadi di kota-kota besar yang ada di negara Indonesia kita tercinta ini. Berikut poin2 yang sy rangkum bagaimana masyarakat Makassar dalam berlalu lintas.

  1. Tidak sabaran dalam menunggu lampu merah berganti menjadi lampu hijau begitu pun sebaliknya. Lampu Lalu lintas di kota ini banyak yang dilengkapi dengan counter waktu mundur untuk mengetahui kapan lampu akan berubah dari hijau menuju merah dan merah menuju hijau. Jika kondisi lampu hijau dan menuju merah, mereka tidak segan-segan untuk mencuri waktu sebanyak 3-5 detik setelah lampu hijau berubah menjadi merah. Dengan kata lain telah mengambil hak pengendara di jalur lain yang lampu lalu lintasnya telah berubah menjadi merah. Begitupun juga ketika lampu merah menuju lampu hijau. Mereka pun banyak yang tidak segan-segan mencuri waktu 3-5 detik sebelum lampu merah berganti hijau. Dengan kata lain juga mengambil hak pengendara di jalur lain yang lampu lalu lintasnya masih hijau.
  2. Kendaraan yang berhenti di depan lalu lintas dan melewati Zebra Cross dengan kata lain mengambil hak pejalan kaki. Dan yang paling aneh di antara semuanya itu adalah mereka tidak melihat lampu lalu lintas di atas mereka ataukah dibelakang mereka ( ya sudah jelas lah tidak akan dilihat karena lampu lalu lintasnya di lewati). Yang mereka lebih perhatikan yaitu bagaimana pengendara di jalur yang lain. Apakah sudah berhenti atau tidak? Jika sudah berhenti berarti itu adalah giliran mereka. Nice logic menurut sy. Kadang  guyonan sy kepada teman-teman saya di kota ini, rata-rata dari kita orang Makassar jago,  kita melihat lampu lalu lintas tetangga kita dibandingkan lampu lintas di jalur kita sendiri. Lalu lah masalahnya dimana? Kan logicnya sudah benar, jika lampu lalu lintas seberang berhenti berarti itu giliran kita. Masalahnya adalah, lampu lalu lintasnya  belum berubah warna langsung aja tancap. Ups kadang sy pun juga mengambil hak pejalan kaki ketika macet dengan melewati trototar L .
  3. Ketika malam-malam dimana hampir sudah sangat jarang kendaraan lalu lalang. Lampu lalu lintas masih merah, eh dilewati saja seperti lampu hijau tanpa peduli itu adalah lampu merah. Mungkin mereka berpikir “sudah tidak ada polisi yang jaga”. “Sudah tidak ada kendaraan yang lewat”.
  4. Menyeberang Jalur. Jalur yang seharusnya bukan merupakan jalur mereka, malah ditempati atau dilewati. Paling sering juga di lampu lalu lintas. Sehingga kadang-kadang menyebabkan kendaraan dari arah seberang tidak bisa melewati jalur mereka karena terhalang oleh pengendara dari jalur sebelah.
  5. Tidak menyalakan lampu weser (kedip2 warna kuning) sebelum pindah jalur. Ataukah ingin belok.
  6. Buka kaca mobil, kemudian buang sampah keluar, seakan-akan jalan raya adalah tempat sampah.

Hal-hal ini lah yang sering sy perhatikan di kota ini mengenai lampu lalu lintas. Dan hampir masalah seperti ini yang akan kita dapatkan setiap hari di kota Makassar jika berlalu lintas. Akhirnya yang kena adalah warga kota Makassar sendiri termasuk saya tentunya. Akan terjebat macet yang berkepanjangan.

Okelah mengenai kasus pengerjaan yang mandek di Jembatan Tello beberapa bulan terakhir ini yang katanya disebabkan project jembatan Tello. Akan tetapi coba kita melirik kejadian di simpang Jalan dekat dengan SMPN 8 Makassar.

Pada hari  Senin 29 Februari 2016 malam, sy akhirnya memarkirkan motor sy di depan Fotocopy dekat Lampu Lalu lintas dan ikut menjadi “polisi lalu lintas dadakan” di lampu lalu lintas itu. Mereka semua berhenti di tengah lampu lalu lintas itu. Tak ada yang mau mengalah. Entah siapa yang memulai kesalahan pertama kali di titik itu, yang sy duga adalah pengendara yang tetap berjalan padahal lampu merah sudah berada di jalurnya.

Sy tidak sendiri, sudah ada 1 orang warga lebih awal menjadi “polisi lalu lintas dadakan” di tempat itu. Dia adalah warga biasa yang sy pikir bukan seorang wiraswasta, tetapi malah seperti  seorang buruh, terlihat dari penampilannya. Sy pun langsung menjadikan diri saya sebagai bawahan dia  untuk mengatur lampu lalu lintas itu. Kami saling bekerja sama, mungkin kurang lebih hampir  30-45 menit kami menyelesaikan masalah itu sampai akhirnya kami membuat pengendara mengikuti kembali lampu lalu lintas dimana merah untuk berhenti dan hijau untuk berjalan.

Disini sebenarnya tidak ingin bercerita tentang  apa yang sy lakukan di kota ini pada malam itu. Akan tetapi sy ingin mengajak teman-teman saya yang ada di kota Makassar ini yang terhubung lewat facebook saya ini untuk sama-sama mengajarkan diri kita, keluarga kita, dan teman-teman kita untuk tertib lalu lintas. Yang paling utama di antara semuanya adalah di titik lampu lalu lintas. Okelah mengenai helm, mungkin masih banyak di antara kita yang tidak mengenakannya. Tapi esensi helm itu kan lebih ke arah diri sendiri. Ketika kita kecelakaan dan tidak sedang menggunakan helm maka kemungkinan besar kepala kita bisa kena efeknya. Dan sy sudah merasakan mamfaat dari helm ini ketika kecelakaan, kepala saya terselamatkan. Alhamdulillah. Tapi yang paling utama adalah tidak melakukan kejahatan berlalu lintas saat berada  di lampu lalu lintas. Karena itu akan menyebabkan macetnya arus lalu lintas yang berujung pada kerugian kita bersama di kota ini.

Untuk saat ini yang bisa kita  lakukan sebisa mungkin ketika kita berada di lampu lalu lintas adalah berhenti ketika lampu merah itu sudah menyala. Meskipun beberapa pengendara di depan kita sudah melanggarnya. Akan tetapi kita  berhenti dan tidak ikut-ikutan! Kelakukan ini akan mengakibatkan orang-orang yang berada di belakang kita juga berhenti. Entah dia orang yang patuh ataukah tidak. Karena jika kita ditabrak sama mereka. Tentu mereka sudah bersalah 2 kali. Intinya jangan turut menjadi bagian dari kesalahan ini.
Kadang saya berpikir, apakah mereka yang melanggar ini tidak mempunyai SIM? Ataukah mereka mempunyai SIM tetapi lupa akan peraturan-peraturan lalu lintas. Padahal mereka seharusnya memahami peraturan tersebut sebagai persyaratan untuk memiliki SIM itu. Ataukah warga kita sudah tidak tahu bahwa merah itu berhenti, hijau itu berjalan, dan kuning itu hati-hati. Sering sih sy mendengar bagaimana mendapatkan SIM di negara ini. Cukup bayar sekian maka kita sudah lolos mendapatkan SIM tersebut. Dan anehnya lagi kita juga masih lebih sering menjadi orang yang suka “bayar ditempat” untuk menyelesaikan pelanggaran lalu lintas kita.

Sampai saat ini saya terus belajar bersama teman-teman sy yang lebih patuh lagi dalam berlalu lintas sepeti Khaerul Fadly dan Sidik Permana di kota ini. Saya bangga menjadi warga kota Makassar, sy cinta kota Makassar ini dan sy bahagia menjaga kota ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? seperti pepatah yang kita baca  di Kota Maros salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan.

Makassar, Selasa 01 Maret 2016

 

 

 

Posted in Budaya, Daily Life, Kegelisahan Hatiku, Momen Unik, Mungkin Anda Tahu, Opini, Tentang Saya, Uncategorized | Leave a comment