#1000BungaMasambaUntukAndiDjemma

Jadi sekarang ini sy sangat sibuk untuk membuat gerakan mengingat pahlawan Nasional. Karena sy lahir dari tanah Luwu, maka sy buat dulu untuk mengkhususkan seorang Tokoh dari Tanah Luwu dulu, kebetulan orang yang akan sy branding adalah pahlawan Nasional.
andidjemma

Kegiatan ini cukup menguras semuanya, waktu, uang, dan tenaga. Kurang lebih sudah seperti pahlawan lah, mencoba berbakti kepada Nusa dan Bangsa ini. Ckckckck.

Terlepas dari banyaknya intrik permasalahan untuk beliau, karena hingga saat ini di kota tempat di makamkan beliau tidak ada nama jalannya. Padahal SK pengangkatan bahwa dia adalah pahlawan nasional jauh lebih awal dari mertuanya sendiri yaitu Andi Mappanyukki.

 

#Semangat

see http://www.1000BungaMasamba.id

Posted in Curhat, Ideologi, Ilmu Komunikasi, Mungkin Anda Tahu | Leave a comment

Selamat Jalan Paman

7 November 2013 (3 Muharram 1435 H ) sekitar 2,5 tahun lalu kakek sy meninggal Andi Muhammad Sajeri Opu Dg. Massita meninggalkan  kami  semua sekeluarga. Hari jumat kemarin, 25 Maret 2016 (17 Jumadil Akhir 1437 ) sepupu saya sekarang ini harus berkabung. Ayah dari sepupu saya telah wafat lagi. Ayah dari sepupu saya ini juga merupakan keluarga karena pernikahan ayah dari sepupu ini adalah pernikahan rumpun keluarga juga. Ibu dari sepupu saya ini adalah saudara dari ibu saya (Ibu saya bernama Andi Misrukiah Opu Dg. Manyala).

Paman saya ini adalah paman yang lucu menurut saya. Lumayan bisa diajak bercanda dan juga beliau sangat sabar. Sy masih ingat ketika sy memijat-mijat badannya ketika badannya kaku disebabkan penyakit stroke mulai mendekati tubuhnya. Di awal-awal perjumpaan saya lagi, beliau belum terlalu ingin beribadah selayaknya muslim seperti pada umumnya. Akan tetapi di 2 tahun terakhir ini saya menemukan beliau dalam keadaan seperti itu. Bagaimana di setiap azan yang terkumandang di Masjid Baitul Hakim dekat rumah “tinggi” beliau bergegas ke masjid itu. Saya merasakan sisi religius mulai masuk ke dalam dada pria  yang dulunya dikenal sebagai  sebagai pemuda cakep yang mempersunting tante saya. Yah biasa lah kita mendengarkan orang-orang yang sudah bau liang lahat mungkin akan mulai mengingat kehidupan setelah mati sehingga mereka mulai mempersiapkan dengan bersifat religous. Yah beruntunglah orang yang masih ingat akan hal itu. Karena ada orang yang di saat tua nya pun tidak dapat bersifat religous. Meskipun di saat-saat akhirnya. Akan tetapi itulah yang utama. Di kehidupan akhir yang baik. Beliau akhirnya meninggal di hari Jumat. Kalian tahu bagi yang muslim, hari jumat adalah hari terindah buat mereka yang meninggal di hari itu. Para kaum kristiani pun mengagungkan hari itu juga.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Setiap muslim yang meninggal di hari jumat atau malam jumat, maka Allah akan memberikan perlindungan baginya dari fitnah kubur. (HR. Ahmad 6739, Turmudzi 1074 dan dihasankan al-Albani.

Yah keluarga besar saya dari sisi ibu saya telah berkabung di hari ini. Adik-adik saya  telah pulang ke kampung halaman. Adik-adik sepupu saya pun telah pulang, termasuk kedua anaknya yang sementara menjalani proses kuliah di kota Makassar ini. Ingin sy pulang juga ke sana, akan tetapi ada sesuatu hal yang membuat saya tidak bisa pulang untuk saat ini. Akan tetapi akan ku kunjungi makam nya suatu hari nanti ketika saya pulang ke kampung halaman saya.

Berbahagialah disana paman. Berbahagialah engkau, dan sekali lagi berbahagialah engkau karena engkau wafat di hari Jumat, dimana hari itu merupakan hari yang kudambakan juga suatu hari nanti di ujung akhir hidup saya. Berdoa lah engkau bisa bertemu dengan mertuamu sekaligus paman kamu juga disana.

Untuk saudara sepupu ku tercinta Andi Feri, Andi  Vera, Andi Fika, Andi Nada, Andi Viki yang telah ditinggalkan
Makassar, 26 Maret 2016.

Posted in Keluarga | Leave a comment

Respect

Apa itu respect ?

Yah respect mungkin ditranslate dalam bahasa Indonesia, yaitu menghargai.

Respect atau menghargai manusia dalam pandangan saya itu harus adil. Melihat manusia tidak boleh karena apa-apa yang melekat pada dirinya yang terlihat secara kasat mata saja. Boleh jadi Anda sedang respect terhadap seorang yang bermobil tetapi sebenarnya uangnya dari korupsi yang dikumpulkan ayahnya di jabatan-jabatannya di pemerintahan, ataukah hasil suap menyuap dalam Bisnis to Government agar project-project itu berjalan di perusahaan yang dia milikinya. Ataukah dengan cara yang lain dan sebagainya.

Dalam carut marutnya hidup sekarang ini. Dimana ideologi dan pemikiran tersebar dimana-mana. Kita tentu harus punya prinsip dalam hidup ini. Prinsip itulah yang menentukan bagaimana Anda merespon stimulus yang Anda pahami di dunia ini.

Respect itu seharusnya adil.
Mengapa kita harus belajar respect dengan adil? Sy bisa membuat sebuah cerita seperti ini. Anda memiliki dua orang tetangga. Tetangga yang satu Anda tahu memiliki mobil, rumah yang mewah dan tetangga yang kedua adalah seorang yang Anda tahu memiliki banyak uang. Anda begitu bersemangat bercerita dengan dia, seperti menjilat dan seterusnya. Tetapi beda yah kalau ingin belajar dengan mereka. Kemudian ke tetangga berikutnya, hanya tetangga sederhana hidupnya. Sehingga kita kadang melihat rendah dan tidak begitu respect. Kemudian di suatu hari anak Anda sedang sakit dan Anda membutuhkan uang untuk pengobatan anak Anda. Kemudian Anda membutuhkan uang lalu Anda mengunjungi tetangga Anda yang kaya itu. Namun pada kondisi itu si tetangga kaya itu juga sedang butuh-butuhnya uang, dan biasanya orang-orang yang sudah kaya, tentu akan bilang, ” maaf dana sy sedang terpakai untuk ini dan itu”, dan itu mereka tidak bohong. Masalah yang Anda hadapi ini terdengar oleh tetangga yang tidak begitu Anda hargai bahkan di benak Anda selama bertahun-tahun pun tidak ada untuk menghargai mereka, tiba-tiba datang karena alasan kemanusiaan untuk membantu Anda dengan uang cadangan ekonomi mereka untuk membantu Anda, maka tentu sy rasa itu tamparan hebat untuk Anda bagaimana Anda respect terhadap seseorang.

Bagaimana Anda dalam ‘respect’ terhadap seseorang, begitu pula rekontruksi integritas di dalam diri Anda sendiri. Pada dasarnya jika kita melepas semua hal yang melekat di dalam diri kita, maka yang tersisa hanyalah kita sebagai makhluk dan Tuhan dalam rekonstruksi pemikiran kita sebagai hal yang luar biasa dan berkuasa penuh terhadap kita sebagai makhluk. Sehingga kita akan menghargai manusia dalam posisinya yang adil karena kita melihat posisi kita sama, hanya sebagai makhluk Tuhan. Bagi yang memilih bertuhan akan merekonstruksi seperti itu. Tetapi bagi yang tidak bertuhan beberapa di antara mereka memilih untuk bergerak sesuka hati mereka. Dan itu adalah sah-sah saja.

Terkadang ada orang membantu kita juga karena ingin menanam budi terhadap kita. Tetapi tolong dibedakan hal ini biasanya tidak terlihat. Urusan hati itu urusan Tuhan. Niat yang suci dan tulus itu tingkatan tertinggi dari diri seorang manusia, dan hanya Tuhan yang Maha Kuasa lah yang tahu akan isi hati dari seorang manusia. Meskipun motif tentu dapat kita perkecil kemungkinannya dengan deduksi logika yang kuat. Dan sy menyarankan terlebih untuk diri saya sendiri agar membantu karena Tuhan Yang Maha Kuasa dan pandai-pandai lah menentukan di diri Anda mana yang Anda niatkan karena Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di manusia sulawesi, tidak mengenal nama terima kasih. Mereka akan berjuang membalas budi. Mungkin dalam pandangan mereka bahwa bukan ukuran dari seorang manusia jika tidak tahu dalam membalas budi. Jadi jangan salahkan jika Arung Palakka sebagai manusia sulawesi dalam hal perlawanan ke Sultan Hasanuddin ( Raja di Kerajaan Gowa-Tallo) di waktu itu, harus membalas budi ke Belanda menjadi panglima perang di beberapa pertempuran Belanda di Nusantara ini yang berujung sulitnya nama ini tembus menjadi pahlawan Nusantara. Tentu sy tidak bicara mengenai benar dan salah disini. Ini adalah masalah perspektif. Dan sy tentu punya perspektif dan penilaian tersendiri. Politik tanam budi di tanah sulawesi masih saja berlangsung. Namun bedanya, politik tanam budi ini kadang berlanjut dalam tingkatan yang lebih kompleks. Menarik untuk diteliti dan ditelaah tentunya.

Cerita subuh dikarenakan lapar di pagi hari grin emotikon
Terima kasih rendangnya sahabatku dari Minang, Muhammad Ihsan Piliang

Makassar , 12 Maret 2016 , 5:44am

Posted in Ideologi, Kegelisahan Hatiku | Leave a comment

Masyarakat Makasar dalam berlalu Lintas.

Yah kita sering melihat lampu lalu lintas di depan mata kita.

Hari Senin, kemarin , 29 Februari 2016, kita sudah melihat pak Danny Pomanto mengatur pengendara motor dan mobil di seputaran Jembatan Tello yang mana merupakan salah satu titik paling macet  di kota Makassar ini (baca: http://www.rakyatku.com). Jembatan Tello  yang katanya mandek pengerjaannya kemudian kontraktornya juga  dikenakan sanksi sebesar IDR 700 juta, dan juga uang pencairannya masih ada 2 Milyar yang tidak akan dicairkan lagi kepada kontraktornya. (baca: www.rakyatku.com).

Maaf sy tidak akan bercerita mengenai batalnya project impian kota Makassar itu. Tetapi sy akan bercerita uneg-uneg saya tentang Lampu Lalu Lintas di kota ini, dan juga cara masyarakat kota Makassar dalam menyikapi Lampu Lalu Lintas ini.

Sy kembali ke kota Makassar ini sekitar 4 tahun yang lalu di tahun 2011. Maklum sy adalah siswa SMA di kota ini dari tahun 2003 sampai 2006. Sebelum akhirnya kuliah di perguruan tinggi negeri  di kota Bandung. Impian sy dari dahulu kala sejak kuliah kota  Bandung adalah kembali ke kota yang menjadi tumpuan negara di Indonesia bagian timur ini.  Kota yang menjadi tempat pemikiran  berkembang, budaya saling berakultrasi, dan ekonomi berlangsung. Sangat aneh bagi saya pertama kali melihat bagaimana masyarakat Makassar dalam berkendara di kota ini. Perlu digaris bawahi kejadian ini mungkin juga terjadi di kota-kota besar yang ada di negara Indonesia kita tercinta ini. Berikut poin2 yang sy rangkum bagaimana masyarakat Makassar dalam berlalu lintas.

  1. Tidak sabaran dalam menunggu lampu merah berganti menjadi lampu hijau begitu pun sebaliknya. Lampu Lalu lintas di kota ini banyak yang dilengkapi dengan counter waktu mundur untuk mengetahui kapan lampu akan berubah dari hijau menuju merah dan merah menuju hijau. Jika kondisi lampu hijau dan menuju merah, mereka tidak segan-segan untuk mencuri waktu sebanyak 3-5 detik setelah lampu hijau berubah menjadi merah. Dengan kata lain telah mengambil hak pengendara di jalur lain yang lampu lalu lintasnya telah berubah menjadi merah. Begitupun juga ketika lampu merah menuju lampu hijau. Mereka pun banyak yang tidak segan-segan mencuri waktu 3-5 detik sebelum lampu merah berganti hijau. Dengan kata lain juga mengambil hak pengendara di jalur lain yang lampu lalu lintasnya masih hijau.
  2. Kendaraan yang berhenti di depan lalu lintas dan melewati Zebra Cross dengan kata lain mengambil hak pejalan kaki. Dan yang paling aneh di antara semuanya itu adalah mereka tidak melihat lampu lalu lintas di atas mereka ataukah dibelakang mereka ( ya sudah jelas lah tidak akan dilihat karena lampu lalu lintasnya di lewati). Yang mereka lebih perhatikan yaitu bagaimana pengendara di jalur yang lain. Apakah sudah berhenti atau tidak? Jika sudah berhenti berarti itu adalah giliran mereka. Nice logic menurut sy. Kadang  guyonan sy kepada teman-teman saya di kota ini, rata-rata dari kita orang Makassar jago,  kita melihat lampu lalu lintas tetangga kita dibandingkan lampu lintas di jalur kita sendiri. Lalu lah masalahnya dimana? Kan logicnya sudah benar, jika lampu lalu lintas seberang berhenti berarti itu giliran kita. Masalahnya adalah, lampu lalu lintasnya  belum berubah warna langsung aja tancap. Ups kadang sy pun juga mengambil hak pejalan kaki ketika macet dengan melewati trototar L .
  3. Ketika malam-malam dimana hampir sudah sangat jarang kendaraan lalu lalang. Lampu lalu lintas masih merah, eh dilewati saja seperti lampu hijau tanpa peduli itu adalah lampu merah. Mungkin mereka berpikir “sudah tidak ada polisi yang jaga”. “Sudah tidak ada kendaraan yang lewat”.
  4. Menyeberang Jalur. Jalur yang seharusnya bukan merupakan jalur mereka, malah ditempati atau dilewati. Paling sering juga di lampu lalu lintas. Sehingga kadang-kadang menyebabkan kendaraan dari arah seberang tidak bisa melewati jalur mereka karena terhalang oleh pengendara dari jalur sebelah.
  5. Tidak menyalakan lampu weser (kedip2 warna kuning) sebelum pindah jalur. Ataukah ingin belok.
  6. Buka kaca mobil, kemudian buang sampah keluar, seakan-akan jalan raya adalah tempat sampah.

Hal-hal ini lah yang sering sy perhatikan di kota ini mengenai lampu lalu lintas. Dan hampir masalah seperti ini yang akan kita dapatkan setiap hari di kota Makassar jika berlalu lintas. Akhirnya yang kena adalah warga kota Makassar sendiri termasuk saya tentunya. Akan terjebat macet yang berkepanjangan.

Okelah mengenai kasus pengerjaan yang mandek di Jembatan Tello beberapa bulan terakhir ini yang katanya disebabkan project jembatan Tello. Akan tetapi coba kita melirik kejadian di simpang Jalan dekat dengan SMPN 8 Makassar.

Pada hari  Senin 29 Februari 2016 malam, sy akhirnya memarkirkan motor sy di depan Fotocopy dekat Lampu Lalu lintas dan ikut menjadi “polisi lalu lintas dadakan” di lampu lalu lintas itu. Mereka semua berhenti di tengah lampu lalu lintas itu. Tak ada yang mau mengalah. Entah siapa yang memulai kesalahan pertama kali di titik itu, yang sy duga adalah pengendara yang tetap berjalan padahal lampu merah sudah berada di jalurnya.

Sy tidak sendiri, sudah ada 1 orang warga lebih awal menjadi “polisi lalu lintas dadakan” di tempat itu. Dia adalah warga biasa yang sy pikir bukan seorang wiraswasta, tetapi malah seperti  seorang buruh, terlihat dari penampilannya. Sy pun langsung menjadikan diri saya sebagai bawahan dia  untuk mengatur lampu lalu lintas itu. Kami saling bekerja sama, mungkin kurang lebih hampir  30-45 menit kami menyelesaikan masalah itu sampai akhirnya kami membuat pengendara mengikuti kembali lampu lalu lintas dimana merah untuk berhenti dan hijau untuk berjalan.

Disini sebenarnya tidak ingin bercerita tentang  apa yang sy lakukan di kota ini pada malam itu. Akan tetapi sy ingin mengajak teman-teman saya yang ada di kota Makassar ini yang terhubung lewat facebook saya ini untuk sama-sama mengajarkan diri kita, keluarga kita, dan teman-teman kita untuk tertib lalu lintas. Yang paling utama di antara semuanya adalah di titik lampu lalu lintas. Okelah mengenai helm, mungkin masih banyak di antara kita yang tidak mengenakannya. Tapi esensi helm itu kan lebih ke arah diri sendiri. Ketika kita kecelakaan dan tidak sedang menggunakan helm maka kemungkinan besar kepala kita bisa kena efeknya. Dan sy sudah merasakan mamfaat dari helm ini ketika kecelakaan, kepala saya terselamatkan. Alhamdulillah. Tapi yang paling utama adalah tidak melakukan kejahatan berlalu lintas saat berada  di lampu lalu lintas. Karena itu akan menyebabkan macetnya arus lalu lintas yang berujung pada kerugian kita bersama di kota ini.

Untuk saat ini yang bisa kita  lakukan sebisa mungkin ketika kita berada di lampu lalu lintas adalah berhenti ketika lampu merah itu sudah menyala. Meskipun beberapa pengendara di depan kita sudah melanggarnya. Akan tetapi kita  berhenti dan tidak ikut-ikutan! Kelakukan ini akan mengakibatkan orang-orang yang berada di belakang kita juga berhenti. Entah dia orang yang patuh ataukah tidak. Karena jika kita ditabrak sama mereka. Tentu mereka sudah bersalah 2 kali. Intinya jangan turut menjadi bagian dari kesalahan ini.
Kadang saya berpikir, apakah mereka yang melanggar ini tidak mempunyai SIM? Ataukah mereka mempunyai SIM tetapi lupa akan peraturan-peraturan lalu lintas. Padahal mereka seharusnya memahami peraturan tersebut sebagai persyaratan untuk memiliki SIM itu. Ataukah warga kita sudah tidak tahu bahwa merah itu berhenti, hijau itu berjalan, dan kuning itu hati-hati. Sering sih sy mendengar bagaimana mendapatkan SIM di negara ini. Cukup bayar sekian maka kita sudah lolos mendapatkan SIM tersebut. Dan anehnya lagi kita juga masih lebih sering menjadi orang yang suka “bayar ditempat” untuk menyelesaikan pelanggaran lalu lintas kita.

Sampai saat ini saya terus belajar bersama teman-teman sy yang lebih patuh lagi dalam berlalu lintas sepeti Khaerul Fadly dan Sidik Permana di kota ini. Saya bangga menjadi warga kota Makassar, sy cinta kota Makassar ini dan sy bahagia menjaga kota ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? seperti pepatah yang kita baca  di Kota Maros salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan.

Makassar, Selasa 01 Maret 2016

 

 

 

Posted in Budaya, Daily Life, Kegelisahan Hatiku, Momen Unik, Mungkin Anda Tahu, Opini, Tentang Saya, Uncategorized | Leave a comment

Apresiasi Perlu Tapi Jangan Terlalu Berlebihan

sy salut sama Ullang, tapi kita jangan kadang melebihkan sesuatu, memframing orang terlalu berlebihan…Keahlian beliau adalah otaknya yang luar biasa dalam hal aljabar sederhana SD sampai SMP, coba berikan soal Log ataukah limit dst, kalau dia bisa jawab..membandingkan dia dalam hal sama dengan einstein terlalu berlebihan karena Einstein mempunyai pengaruh luar biasa dalam bidang science teknologi dan art..sampai teorinya buat bom Atom..

Yang patut disayangkan bagaimana bisa orang yang mempunyai struktur otak seperti ini akhirnya tidak bisa memberikan pengaruh yang luar biasa untuk negara..selain hanya menjadi pendongkrak media online, penambah pundin2 uang di youtube, ataukah di Hitam Putih..

Ullang adalah korban dari kebodohan sosial ataukah apa? Sy lihat video nya sampai terakhir. Ada pak Doktor yang mengucapkan ini anak cocok untuk masuk di dunia programming, yap thats right! Lalu sekarang bagaimana dia bisa masuk. Sederhananya, berikan dia arahan.
nanti uang yang dia dapat dari sana sini di Jakarta, suruh beli laptop spek tinggi atau komputer tinggi, kasih dia ebook, untuk belajar, berikan dia mentor yang tepat untuk membuat dia menjadi luar biasa…

Dan untuk masyarakat Indonesia jangan terlalu latah dalam menilai.
Lihat saja si Yayan yang ada di Bali, toh juga ternyata gak seperti yang kita kira, hanya saja semangatnya yang perlu di apresiasi. Kita pun juga memiliki game developer yang dulunya seorang buruh panggul di Pelabuhan kota Makassar, dia membuat game segala macam tools dan bantuan teman-teman terdekatnya, dan harus diakui dan sy pun angkat topi karena semangat nya yang luar biasa..
Jadi perlu kita belajar tentang metode mem-framing seseorang.

‪#‎SekadarOpini‬

Posted in Kegelisahan Hatiku, Momen Unik, Mungkin Anda Tahu, Opini | Leave a comment

1+1 =0 dan 1 – 1 = 7

Ada teman lebih tepatnya dipanggil kakak lah karena memang usianya lebih tua dari saya. Beliau sudah memiliki sebuah usaha Depot Air Minum di kota Pinrang, dengan branding usahanya Depot Citra Mas. Sy datang ke tempat beliau untuk cerita-cerita dan dia mencoba menshare ilmu yang diperoleh juga dari orang lain sebelumnya. Ilmunya itu kurang lebih seperti ini

1+1 =0 dan 1-1= 7.

Tentu sy bingung karena operasi tambah dan kurang di bilangan desimal harusnya 1+1=2 dan 1-1= 0. Ternyata ini dalam perspektif lain. Dari penjelasannya ini adalah perspektif religius. Singkatnya 1+1=0 itu adalah jika kita berpikir bahwa kita harus selalu mendapatkan untung dan ingin selalu harta kita bertambah tetapi kita lupa untuk berbagi atau gak mengeluarkan sebagian dari harta kita maka ujung-ujung dari hasilnya adalah 0. Misal ada seorang bernama “anu” kemudian mengumpulkan terus uang hingga 20 tahun lamanya dan berhasil mencapai 1 Miliar. Kemudian mengalami sakit yang parah sehingga menghabiskan harta 1 Miliar itu dalam hitungan bulan saja.

Kemudian 1-1=7. Itu artinya kita gak boleh takut untuk berbagi (bersedekah) atau membantu orang. Karena 1 kebaikan itu bisa mendatangkan 7 buah kebaikan lagi. Katanya sih berasal dari ajaran Islam. Maklum perlu belajar lagi tentang dunia islam lebih mendalam.

Beliau pun memberikan saran yang kurang lebih sy pernah juga dengar dari banyak orang untuk mencoba konsisten bersedekah dalam tiap hari. Meskipun belum ikhlas, lakukan saja. Dan mulailah dengan konsisten misal IDR 1000 tiap hari. Boleh lah dicoba. Toh juga usia itu begitu singkat. Apalagi yang akan dibawa jikalau bukan amal ibadah kita.

#Sy memilih berTuhan dan beragama.

Posted in Curhat, Islam, Momen Unik, Mungkin Anda Tahu, Teman | Leave a comment

Uplan Trip to Malino

Uplan Trip to Malino

Cerita ini telat untuk saya tuliskan, maklum saya orang yang tidak bisa langsung update untuk nulis blog, belum terbiasa. Padahal ketika baru saja masih melakukan perjalanan, banyak banget isi kepala saya yang ingin saya tuliskan akan tetapi belum bisa. Akhirnya banyak cerita yang terlewatkan, tetapi saya akan coba mengingat-ngingat cerita tentang ini.

Cerita ini bermula pertemuan pertama dengan kawan lama ITB di Warung Kopi di Jln. Bali Makassar, namanya teman saya  Gustaf (Elektro 06), dan  Putra (Elektro 08). Mereka berdua dahulu adalah penduduk Sunken Court, sebuah tempat di kawasan ITB yang menjadi tempat nongkrong unit-unit mahasiswa di ITB. Gustaf dan Putra tergabung  di Unit yang sama yaitu Unit KMPA  (Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam) Ganesha. Sementara saya berada di Unit Kesenian Sulawesi Selatan (UKSS). Unit KMPA itu berdampingan sekretnya dengan UKSS .

Dari pertemuan pertama ini,  Rabu, jam 4 tanggal 14 Oktober di sebuah cafe yang saya lupa apa nama tempatnya. Kami cuap cuap dst. Dan akhirnya sampai pada kesimpulan untuk melakukan perjalanan. Saya bertanya ke Gustaf, ini judulnya apa nih. Kata dia “Unplan Trip!”. Jadi tidak usah ada perencanaan terlalu detil, ini itu, dst. Pokoknya kita tahunya kita akan ke Malino. Tidur dimana, akan seperti apa? Intinya datang ke Malino dan kita tidak tahu persis akan ngapain disana!

Saya sih sudah pernah ke Malino sekali, Gustaf belum pernah, Putra juga pernah.  Jadi karena gustaf ingin tahu disana seperti apa? Kita sepakat akan berangkat ke Malino hari Sabtu, tak tahu kapan berangkatnya.

Hari Jumat, pembicaraan mulai semakin intens, kita mulai mencoba merencanakan sesuatu, yaitu kita mau sewa tenda, berangkat jam 12 siang. Karena semua tidak jelas, kita kembali kepada rencana berikutnya yaitu unplan Trip.

Sabtu pun tiba, 17 Oktober 2015. Tempat kumpul sebelum berangkat dimulai di kosan Gustaf. Putra sudah datang lebih awal. Saya paling telat karena harus tukaran motor dulu dengan adik saya. Selayaknya suami  yang baik saya harus selalu memberikan penyampaian kepada istri bahwa saya pergi liburan dulu sama teman. Maklum saya lama baru jumpa dengan nih kawan. Dan ternyata dia dah hampir 2 tahun di kota ini. Dan tidak pernah bertemu.

Di kosan Gustaf kami cerita cerita lagi, tidak jelas, membuang waktu lagi, sekitar sejaman. Keluar lagi dari rencana jam 12 siang berangkat ke Malino.  Jam setengah 2 kami memutuskan mulai berangkat. Keluar dari rumah, kami mampir dulu makan di warung langganan Gustaf. Lumayan murah dan enak lah untuk makanan rumahan. Setelah itu kami makan dan cerita-cerita lagi dan memulai perjalanan.

Istri saya sempat marah karena saya tidak konsisten kalau saya akan berangkat jam 12. Maklum istri saya belum tahu bahwa perjalanan kami ini judulnya unplan Trip. Sekitar jam 3 kami baru melewati batas kota Makassar menuju Malino Kabupaten Gowa.

Di perjalanan kami mampir dulu di Bendungan Bili-bili. Bisa dilihat foto kami bertiga.

Di Bendungan Bili-Bili

Di Bendungan Bili-Bili

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan kami beberapa kali mampir. Maklum capeklah kami ini menggunakan motor. Hingga akhirnya kami tiba di kota Malino setengah 6 sore.

Kami terus berputar-putar mencoba mengenali kota Malino ini. Hingga akhirnya kami berhenti di sebuah tempat dimana tempat itu ramai, pemuda dan pemudi yang sedang menikmati Malino Mereka lagi menikmati senja yang akan berganti dengan malam dengan berfoto-foto ria. Sampai mereka menawarkan diri untuk memoto mereka, karena tukang potretnya juga mau masuk di foto itu. Ternyata dari mereka ada yang mengenali saya. Namanya Wulan, mahasiswi dari Universitas Negeri Makassar, jurusan Desain Komunikasi Visual. Dia kenal saya karena memang saya sering ke jurusan DKV UNM main-main. Kebetulan ketua Himpunannya adalah teman saya. Dan memang saya dulu ada project ingin terlibat dalam perdamaian antara 2 Fakultas yang sering tawuran di  kampus itu yaitu Fakultas Seni& Bahasa vs Fakultas Teknik.

Teman-teman dari UNM itu sudah pulang ke wisma mereka. Kami tetap di tempat itu, menikmati bulan dan bintang bersama sambil menggunakan smartphone kami mencari lagu-lagu dan chord yang bisa kami nyanyikan. Kebetulan kami membawa gitar yang senarnya kencang banget, sampai jari tersiksa mencetnya. Lantunan lagu terlewati dengan suara fals, dan permainan gitar ala kadarnya menjadi  hiburan kami selama 3 jam. Setelah itu perut mulai kelaparan. kami memutuskan kembali ke tempat keramaian mencari makanan.

Setelah makan kami mencari penginapan yang murah untuk kami tempati. Kami ke Wisma Bahagia, kami mengorek uang kami total 150ribu untuk semalam. Sempat si penjaga wisma menawarkan 250ribu. Enak aja, kemahalanlah  menurut kami. Akhirnya harga disepakati. Kami bermalam di wisma itu.

Pagi harinya setelah subuh kami masih terus tidur. Padahal rencananya mau joging. Eh tidur lagi sampai jam 10 pagi. Setelah itu kami pergi jogging, entah kemana arahnya yang penting jogging. Tau-tau kami terlalu jauh jogging dan kepikiran kalau kembali bisa kejauhan ini. Kami memutuskan untuk bypass saja tapi melewati lembah . Turun bukit naik bukit. Yah malah kecapaian, ngos-ngos. Betis sakit, paha sakit, maklum gak pernah lagi olahraga sayanya.

Kami hampir pulang dengan keadaan seperti itu saja. Akan tetapi , saya dan putra bilang, masa ke Malino, gini-gini aja. Gak kemana-mana gitu? Masa datang hanya untuk nginap di wisma? Ah  kurang seru ini. Setelah browsing lokasi-lokasi wisata di Malino, kami sepakat untuk pergi ke Air Terjun Takapala Malino.

Air terjun Takapala Malino

Air terjun Takapala Malino

Sampai disana, akhirnya perjalanan ke Malino ini terasa sesuatu lah, karena tidak asal pergi doang nikmati dinginnya Malino dan Wismanya. Saya mengajak Gustaf dan Putra untuk berenang, tetapi mereka tidak ingin berenang. Saya memutuskan untuk berenang, tetapi ternyata saya malah kewalahan dan fisik saya jadi lemah dikarenakan air terjunnya suhunya sangat dingin. Sampai-sampai saya harus muntah di perjalanan pulang. Mungkin juga karena belum makan siang kali yah waktu itu.

Setelah dari permandian kami pulang menuju kota Makassar, kami juga sudah sepakat untuk berombongan dengan teman-teman dari UNM untuk pulang ke kota Makassar. Namun beberapa kilo lagi sebelum kota Makassar, kami bertiga, memutuskan untuk mampir di tengah sawah untuk menikmati sunset. Di tengah rumah-rumahan sawah kami bercerita. Ah bentar lagi kita kembali ke kerjaan masing-masing nih. Putra kerja sebagai pegawai Telkom penempatan di kota Makassar, Gustaf kerja sebagai Asisten  Manager di Cheil Worldwide, anak perusahaan Samsung, dan saya seorang freelance developer web.

Digowa menikmati alam ditengah sawah. #senja

Digowa menikmati alam ditengah sawah. #senja

Hampir sampai jam 8 kami disana, kemudian kami memutuskan untuk terus ke kota. Tapi sebelum itu kami makan dulu di warung makan Wong Solo di Jalan  Alauddin. Disana lumayanlah menguras duit Gustaf untuk traktir pesanan saya hihi.

Kalau cerita ini kurang seru. Maklum saya belum terlalu bagus dalam bercerita dalam bentuk tulisan. Hihi..

 

Posted in Teman, Tentang Saya, Traveling | 2 Comments